Tersadar bahwa kelahiran adalah keterpisahan hamba dari Dzat Tuhannya, dan kematian adalah perjalan pulang.... kepada Nya.
Pantaslah bayi terlahir selalu menangis karena enggan terpisah dengan Kekasihnya, sedang kematian khusnul khotimah itu justru dijalani dengan senyuman.
karena kata adalah awal dunia; butuh ruang untuk memelihara "kata" sejak ada di "pikiran", "lisan", bahkan "tulisan".
Minggu, 31 Mei 2015
Bercermin
Dan cermin kita gunakan untuk melihat kekurangan kita....
Maka dari merekalah aku baca tentangku : tak segera beranjak dari masalah, sering mengeluh, berpikir tak efektif, tidak realistis, dan aneh.
Terima kasih.
Saatnya segera beranjak, jauhi keluhan, berpikir lebih sederhana dan taktis, lebih realistis, dan cobalah menjadi seorang biasa.
Bismillah.
Maka dari merekalah aku baca tentangku : tak segera beranjak dari masalah, sering mengeluh, berpikir tak efektif, tidak realistis, dan aneh.
Terima kasih.
Saatnya segera beranjak, jauhi keluhan, berpikir lebih sederhana dan taktis, lebih realistis, dan cobalah menjadi seorang biasa.
Bismillah.
Mencari Ci....
Ini perjalanan... pengembaraan.
Bukan panjang jarak bukan panjang masa.
Namun terasa panjang
Karena rute yang tak biasa.
Mengeja setiap detik
Menjejak setiap senti
Menebar rahsa
Mencari sumber mata airmu
arus sungai ini hanyalah hilirmu
Ialah ekspresi dari cerminan isi
Di balik topengmu sungguh tak terbaca
Mengelakmu karena enggan setelah terbaca aku kan beranjak....
Padahal mata air pastilah lebih jernih dari arus di hilir.
Pengembaraan mencarimu
Perjalanan memahamimu
Panjang namun kusuka
Sedemikian suka
Hingga tetes darah dan keringat tak terasa.
Ci.
Ci.
Ci.
Bukan panjang jarak bukan panjang masa.
Namun terasa panjang
Karena rute yang tak biasa.
Mengeja setiap detik
Menjejak setiap senti
Menebar rahsa
Mencari sumber mata airmu
arus sungai ini hanyalah hilirmu
Ialah ekspresi dari cerminan isi
Di balik topengmu sungguh tak terbaca
Mengelakmu karena enggan setelah terbaca aku kan beranjak....
Padahal mata air pastilah lebih jernih dari arus di hilir.
Pengembaraan mencarimu
Perjalanan memahamimu
Panjang namun kusuka
Sedemikian suka
Hingga tetes darah dan keringat tak terasa.
Ci.
Ci.
Ci.
Jumat, 22 Mei 2015
Topeng wajah topeng persepsi.
Semua kita kenakan topeng, mungkin. Itu jika topeng kita maknai sebagai peranan yang kita ambil. Bukan hanya peranan melainkan juga persepsi orang lain atas diri kita yang sengaja ingin kita bangun. Lalu apakah lalu kita hipokrit saat mengenakan topeng? Mungkin itu bergantung pada seberapa beda persepsi yg kita bangun itu dengan substansi kenyataan yang ada dalam diri kita.
Walau ada yang berdalih tidak masalah jika berbeda, selama anggapan atau persepsi yang kita inginkan itu justru lebih rendah dari pada substansi kenyataan yang ada dalam diri kita. Karena itu artinya rendah hati kan? Entahlah benar atau tidak.
Namun ada pula yang berdalih untuk tetap kenakan topeng, karena menurutnya isi yang sebenarnya dirinya tidaklah menarik. Ia khawatir mereka yang melihat saat ia tak kenakan topeng akan beranjak meninggalkannya.
Dengan alasan yang manakah kita masih kenakan topeng? Atau adakah rencana membuka topeng? Kapan? Ataukah sebenarnya memang sudah tak lagi kenakan topeng?
Walau ada yang berdalih tidak masalah jika berbeda, selama anggapan atau persepsi yang kita inginkan itu justru lebih rendah dari pada substansi kenyataan yang ada dalam diri kita. Karena itu artinya rendah hati kan? Entahlah benar atau tidak.
Namun ada pula yang berdalih untuk tetap kenakan topeng, karena menurutnya isi yang sebenarnya dirinya tidaklah menarik. Ia khawatir mereka yang melihat saat ia tak kenakan topeng akan beranjak meninggalkannya.
Dengan alasan yang manakah kita masih kenakan topeng? Atau adakah rencana membuka topeng? Kapan? Ataukah sebenarnya memang sudah tak lagi kenakan topeng?
Senandika 5
Lampu panggung dinyalakan...
Berdiri sendiri.
Kumulakan dengan tarikan nafas
lalu nafas berat
semua harus disampaikan
seburuk apa pun mungkin yang akan terlahir
ini keniscayaan yang dibutuhkan
karena duga terlahir dari ruang kosong yang dibangun antara pemahaman dan ketidaktahuan
lebih baik tak lagi ada ruang kosong kan....?
Menaburkan aku pada mimpi yang resah,
bahwa luka dipilihkan adalah luka yang sama pedihnya
tinggal ku ukur mana yang lebih ringan mana yang lebih santai.
Dan senja mencengkeram hati,
akal sehat tersenyum penuh kemenangan.
Aku pikir kita telah menemukan plot cerita yang tepat.
Berdiri sendiri.
Kumulakan dengan tarikan nafas
lalu nafas berat
semua harus disampaikan
seburuk apa pun mungkin yang akan terlahir
ini keniscayaan yang dibutuhkan
karena duga terlahir dari ruang kosong yang dibangun antara pemahaman dan ketidaktahuan
lebih baik tak lagi ada ruang kosong kan....?
Menaburkan aku pada mimpi yang resah,
bahwa luka dipilihkan adalah luka yang sama pedihnya
tinggal ku ukur mana yang lebih ringan mana yang lebih santai.
Dan senja mencengkeram hati,
akal sehat tersenyum penuh kemenangan.
Aku pikir kita telah menemukan plot cerita yang tepat.
Senandika 4
Mencari tema, untuk isi bulan suci tahun ini
juga untuk sambut 40 tahunku.
Berbaris beberapa kata:
Semenjana
Renjana
Senandika
Mungkin justru sekedar peta
atau pelita
Peta agar tak tersesat dalam hutan kata
Pelita agar tak tersuruk dalam gelapnya gua metafora
Hidup tak hanya di bawah sinar temaram
Terkadang butuh sinar lampu terang
Nyata dan jelas.
Terkadang berdalih kearifan, gunakan kata semenjana sebagai sarana mengambangkan diri di antara dua tarikan ekstrim
Kanan juga kiri
Dalam juga luar
Radikal juga moderat.
Gamang.
Apa pun. Sekenario setebal itu harus segera kupelajari.
Esok peran itu harus ditonilkan.
Ada atau tak ada penonton.
Ayo.
juga untuk sambut 40 tahunku.
Berbaris beberapa kata:
Semenjana
Renjana
Senandika
Mungkin justru sekedar peta
atau pelita
Peta agar tak tersesat dalam hutan kata
Pelita agar tak tersuruk dalam gelapnya gua metafora
Hidup tak hanya di bawah sinar temaram
Terkadang butuh sinar lampu terang
Nyata dan jelas.
Terkadang berdalih kearifan, gunakan kata semenjana sebagai sarana mengambangkan diri di antara dua tarikan ekstrim
Kanan juga kiri
Dalam juga luar
Radikal juga moderat.
Gamang.
Apa pun. Sekenario setebal itu harus segera kupelajari.
Esok peran itu harus ditonilkan.
Ada atau tak ada penonton.
Ayo.
Senandika 3
Bicaralah tentangku,
terduduk aku menyimakmu
tentang percakapan bernas
tentang pertikaian pandangan
tentang simbol dan batas yang memburam
tentang telaga yang riaknya nyaris tak terbaca.
Bicaralah sebagaimu,
lalu abaikanku, abaikan anggapanku nanti
tentang semburat cahaya tiba tiba itu
tentang air mata yang tertanam di pangkal otak
tentang mana yang kau nyamankan
tentang nama yang kau samarkan.
Namun tiba tiba saja terik -
kilatan tajam
menguliti ingin yang tersembunyi
Obsesi yang seolah virus menyembunyi dalam perhatian.
Teruskan saja,
rembulan sayu malu
berulang terkalahkan - seolah terkalahkan
padahal sekedar terbantahkan....
sebenarnya.
Bola mataku adu dengan cahayamu
membinar dalam kerjap bintang
Perih cahyanya menembus retina
namun kutahan namun kutahan
perlahan perlahan menjadi telaga air mata
sejuk
sejuknya menenggelamkan kami.
Sekian.
terduduk aku menyimakmu
tentang percakapan bernas
tentang pertikaian pandangan
tentang simbol dan batas yang memburam
tentang telaga yang riaknya nyaris tak terbaca.
Bicaralah sebagaimu,
lalu abaikanku, abaikan anggapanku nanti
tentang semburat cahaya tiba tiba itu
tentang air mata yang tertanam di pangkal otak
tentang mana yang kau nyamankan
tentang nama yang kau samarkan.
Namun tiba tiba saja terik -
kilatan tajam
menguliti ingin yang tersembunyi
Obsesi yang seolah virus menyembunyi dalam perhatian.
Teruskan saja,
rembulan sayu malu
berulang terkalahkan - seolah terkalahkan
padahal sekedar terbantahkan....
sebenarnya.
Bola mataku adu dengan cahayamu
membinar dalam kerjap bintang
Perih cahyanya menembus retina
namun kutahan namun kutahan
perlahan perlahan menjadi telaga air mata
sejuk
sejuknya menenggelamkan kami.
Sekian.
Langganan:
Postingan (Atom)
Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...
-
Mereka, para Shahabat Rosulillah itu membaca "Ayat-ayat Allah" dan juga sabda Rosulullah SAW, tidak sekedar sebagai "pesan...
-
"Jika benar kau pemerhati hal-hal sederhana, maka apa yang paling tercatat di mula pertemuan kita dulu?" Mungkin jawabannya adalah...
-
Buku MADILOG, Materialisme, Dialektika dan Logika adalah buku karya Tan Malaka yang kaya. Berisi banyak pengetahuan. Tak kebayang buku ini...