Sinar lampu tusuk mata
Yang terdengar suara berat
Interogasi diri.
Jangan main main... ini sidang nurani
Jari telunjuk persis mengarah ke dahi....
Merasa idealis kenyataannya tidak...
Dusta tapi sopan.
Kau tahu kenapa?
Itu karena sebenarnya kau bukan orang baik baik.
Lalu senyap.
Sorot lampu masih menusuk mata
Kornea lelah mengerjap... air mata mulai mengering.
Suaranya masih berat, seperti peti penuh isi... terseret.
... namun mulai lebih lembut.
Aku tak ingin memenjarakanmu,
Aku hanya khawatir.
Dengan mata yang kerontang itu ia kembali terisak.
karena kata adalah awal dunia; butuh ruang untuk memelihara "kata" sejak ada di "pikiran", "lisan", bahkan "tulisan".
Jumat, 22 Mei 2015
Senandika. (1)
Kesepian yang tiba tiba
bahwa diri memang berbeda
namun tak lama
karena berikutnya justru gempita
ada cahaya menyala
dalam dada
bahwa tak ada yang pantas dirisaukan lagi
semua telah lengkap
makna hari telah tertangkap
terkuliti dalam jumput arti
Apakah lalu tak lagi ada rindu
tidak juga
karena rindu itu lahir oleh sadar diri akan perlunya mata dan telinga lain
butuh tatap enggan saat nurani tersembelih oleh kebengisan kata sendiri.
Baru beberapa langkah dari belik
aku telah kembali dahaga
dahaga olehmu
dahaga oleh telaga makna itu
Aku perankan saja
Aku mainkan saja.
bahwa diri memang berbeda
namun tak lama
karena berikutnya justru gempita
ada cahaya menyala
dalam dada
bahwa tak ada yang pantas dirisaukan lagi
semua telah lengkap
makna hari telah tertangkap
terkuliti dalam jumput arti
Apakah lalu tak lagi ada rindu
tidak juga
karena rindu itu lahir oleh sadar diri akan perlunya mata dan telinga lain
butuh tatap enggan saat nurani tersembelih oleh kebengisan kata sendiri.
Baru beberapa langkah dari belik
aku telah kembali dahaga
dahaga olehmu
dahaga oleh telaga makna itu
Aku perankan saja
Aku mainkan saja.
Senandika 1
melalui cermin, bincang itu terjadi saja
demikian pula kata aku diulang ulang
sajikan kenyataan dan bukan lagi tentang metafora
karena dunia sudah terlalu muak dengan ungkapan
semua bergerak ke arah makna yang sebenarnya. Tidak ambigu.
maka kita memilih kalimat-kalimat berita saja
jangan hanya cerita dan geguritan
mari bermain dengan fakta nyata
bukan lagi tentang makna-makna bias
memang akan tertuduhkan sebagai kering rasa pada kata-katanya, namun lebih dekat pada kebenaran dengan makna yang gamblang.
hitam dan putih saja.
demikian pula kata aku diulang ulang
sajikan kenyataan dan bukan lagi tentang metafora
karena dunia sudah terlalu muak dengan ungkapan
semua bergerak ke arah makna yang sebenarnya. Tidak ambigu.
maka kita memilih kalimat-kalimat berita saja
jangan hanya cerita dan geguritan
mari bermain dengan fakta nyata
bukan lagi tentang makna-makna bias
memang akan tertuduhkan sebagai kering rasa pada kata-katanya, namun lebih dekat pada kebenaran dengan makna yang gamblang.
hitam dan putih saja.
Sabtu, 09 Mei 2015
Menyikapi konflik
Paling tidak ada tiga gaya menyikapi konflik:
1. Secara terbuka kemukakan ketidakterimaan kita. Hal ini membuat lega, hindarkan kita dari stres karena simpan gundah hati, namun berpotensi lukai hati lawan bicara kita. Karena saat pengungkapan bisa jadi bukan saat yang tepat.
2. Menyimpan perbedaan pendapat kita untuk menghindari sakit hatinya lawan bicara kita, namun ini berpotensi jadi stres buat diri sendiri.
3. Melepaskan potensi konflik itu dalam sikap pemakluman atau memaafkan. Ini melegakan buat diri sekaligus menghindari sikap gegabah yang bisa melukai hati lawan bicara kita.
Entahlah.
1. Secara terbuka kemukakan ketidakterimaan kita. Hal ini membuat lega, hindarkan kita dari stres karena simpan gundah hati, namun berpotensi lukai hati lawan bicara kita. Karena saat pengungkapan bisa jadi bukan saat yang tepat.
2. Menyimpan perbedaan pendapat kita untuk menghindari sakit hatinya lawan bicara kita, namun ini berpotensi jadi stres buat diri sendiri.
3. Melepaskan potensi konflik itu dalam sikap pemakluman atau memaafkan. Ini melegakan buat diri sekaligus menghindari sikap gegabah yang bisa melukai hati lawan bicara kita.
Entahlah.
Selasa, 05 Mei 2015
Diam, melawan, atau memaafkan?
#: kenapa ya mas
*: dalem?
#: kenapa orang cenderung lebih suka menyakiti
orang lain saat dirinya terluka?
*: naluri membalas?
#: kenapa tidak mecari obat penawarnya saja?
*: nah... ini percakapan filosofis... (bersiap
simpan)
#: jadi, menurutmu kenapa?
*: karena naluri membalas...
petinju akan bersemangat memukul saat ia
terpukul
seharusnya memang ia mencari penawar saja
fokus pada lukanya
karena melukainya tak lalu membuat luka kita
sembuh
#: kalau analoginya petinju, dia membalas
lawannya yg memukul dia
fight back
*: oh.. ini melukai orang lainnya lagi?
wah
#: bukan memukul para penontonnya kan?
*: iya
hmm.. mungkin kesenangan jika tak terluka
sendiri
#: kalau hakikat hidup ini hanya sekedar
membalas, lalu dimana ujungnya?
berhenti dimana ini semua nantinya?
*: seharus kata maaf yang menghentikannya
#: siapa yg menghentikan alur ini? atau memang
tidak akan berhenti?
*: seharusnya kita yang menghentikan...
bukankah kita lah pelaku utama film Hidup Kita?
#: kalau aku menghentikannya dengan cara diam,
does it work?
*: diam itu menahan
menahan itu berat
memaafkan itu melepaskan
melepaskan itu melegakan
#: saat aku belum bisa memaafkan, apa diam itu
belum cukup?
untuk sementara, paling tidak, itu menghentikan
alur tadi
*: apakah diam itu menuju ke arah
"memaafkan" atau hanya diam?
jika hanya diam maka itu belum cukup
#: bener katamu, diam itu untuk menghentikan,
supaya aku ga turut melukai orang lain
efeknya akumulatif di aku
*: namun bisa jadi luka itu bertambah di
tempatmu
#: dan siap meledak kapan saja aku udah ga
sanggup menahan
ledakan itu lah yang harus dihindari
caranya lepaskan.. bukan ditahan
melepaskannya adalah dengan memaafkannya
#: I'll try
*: semangat dik
buat banyak pintu dalam pemikiran kita... untuk melepas luka itu
Sabtu, 02 Mei 2015
tentang waktu; ingatan dan rencana
Poetoe: Terpikir tentang waktu....
Bergerak terus. Ajeg. Konstan.
Yang membuat ada adegan flash back itu adalah ingatan kita.....
Saat merencanakan sesuatu, maka sebenarnya kita sedang menarik hari esok ke hari ini.... walau tentu baru dalam kemasan duga-duga dan ramalan semata.
Demikian halnya saat kita mengingat atau mengenang sesuatu, maka sebenarnya saat itu kita sedang menarik hari-hari kemarin dan masa lalu ke dalam hari ini.
Dan aku di hari ini berdiri di antara dua tarikan: masa lalu dalam kenangan dan hari esok dalam rencana....
Lila: Kenangan tidak akan hilang dia hanya bersembunyi (kata temanku)
atau bisa jadi kenangan sengaja disembunyikan...
Tergantung dimana dia berada...
Tergantung dimana dia kau simpan...
Tergantung jenis kenangannya...
Jika kenangan bersembunyi...
mungkin kita yang mencari dan akhirnya menemukannya..
Atau waktu dan kesempatan yang menemukannya kita dan kenangan...
Lalu kenapa kenangan harus disembunyikan?
kenangan seperti ini mungkin indah pada waktu itu tapi jika dimunculkan kembali membawa dampak yang tidak baik untuk hidup kita sekarang.
Apakah jika kita menarik kenangan itu akan membuat kita bahagia atau hanya membawa kegelisahan?
Ketika kita menariknya akan membuat kita bahagia tentu bukan jadi masalah, menarik kemudian membawanya ke pangkuan dan meletakkannya dijejak hari ini mungkin nanti..
Ketika kenangan itu akan meniupkan kegelisahan.. mengingatnya akan menimbulkan masalah...
Dan jangan biarkan kegelisahan itu mendekapmu.
Termasuk yang manakah kenanganmu itu?
Lalu Kenapa kau tarik kenangan itu?
Jika kenangan itu tak mengusik hidupmu sekarang tak mengapa kau tarik benangnya...
Jika kenangan itu mengusikmu kenapa harus kau tarik benangnya?
Ulurkan lagi saja benang kenangan itu..dan biarkan ia menjadi titik kecil di atas langit yang luas.
Bagaimana kalau kenangan yang membuat kegelisahan menghampiri kita?
Tutup saja pintumu jangan biarkan dia masuk.
Titik!
Bergerak terus. Ajeg. Konstan.
Yang membuat ada adegan flash back itu adalah ingatan kita.....
Saat merencanakan sesuatu, maka sebenarnya kita sedang menarik hari esok ke hari ini.... walau tentu baru dalam kemasan duga-duga dan ramalan semata.
Demikian halnya saat kita mengingat atau mengenang sesuatu, maka sebenarnya saat itu kita sedang menarik hari-hari kemarin dan masa lalu ke dalam hari ini.
Dan aku di hari ini berdiri di antara dua tarikan: masa lalu dalam kenangan dan hari esok dalam rencana....
Lila: Kenangan tidak akan hilang dia hanya bersembunyi (kata temanku)
atau bisa jadi kenangan sengaja disembunyikan...
Tergantung dimana dia berada...
Tergantung dimana dia kau simpan...
Tergantung jenis kenangannya...
Jika kenangan bersembunyi...
mungkin kita yang mencari dan akhirnya menemukannya..
Atau waktu dan kesempatan yang menemukannya kita dan kenangan...
Lalu kenapa kenangan harus disembunyikan?
kenangan seperti ini mungkin indah pada waktu itu tapi jika dimunculkan kembali membawa dampak yang tidak baik untuk hidup kita sekarang.
Apakah jika kita menarik kenangan itu akan membuat kita bahagia atau hanya membawa kegelisahan?
Ketika kita menariknya akan membuat kita bahagia tentu bukan jadi masalah, menarik kemudian membawanya ke pangkuan dan meletakkannya dijejak hari ini mungkin nanti..
Ketika kenangan itu akan meniupkan kegelisahan.. mengingatnya akan menimbulkan masalah...
Dan jangan biarkan kegelisahan itu mendekapmu.
Termasuk yang manakah kenanganmu itu?
Lalu Kenapa kau tarik kenangan itu?
Jika kenangan itu tak mengusik hidupmu sekarang tak mengapa kau tarik benangnya...
Jika kenangan itu mengusikmu kenapa harus kau tarik benangnya?
Ulurkan lagi saja benang kenangan itu..dan biarkan ia menjadi titik kecil di atas langit yang luas.
Bagaimana kalau kenangan yang membuat kegelisahan menghampiri kita?
Tutup saja pintumu jangan biarkan dia masuk.
Titik!
Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2015
Belajar dari #filosofikopi bahwa jangan kerja dengan obsesi melainkan dengan cinta. Yang mau UN belajar dengan cinta jangan pakai obsesi.
Kalau obsesi maka gagal UN bisa jadi akhir segalanya, kalau belajar dengan cinta maka ternikmati hasil dan juga caranya.
Cari terus cara belajar yang paling nikmat. Lalu nikmati. Belajar dengan bahagia. Ilmu itu indah seperti suasana pagi yang segar.
Karena UN itu bagian dari proses belajar. Mestinya ya tetap harus bahagia. Tidak perlu ada ketegangan.
Bahkan jika pun tidak lulus mestinya biasa saja. Karena itu hanya mengukur kemampuan. Jika belum bisa ya ulangi lagi.
Yang membuat seram ketidaklulusan adalah rasa malu. Dan itu penyakit hati para pembelajar.
Yang seharusnya malu itu jika tak bisa namun ngotot pingin lulus. Itu curang. Bohong pada diri sendiri.
Mari terus cintai ilmu. Dan terus belajar dengan cinta. Dan jangan lupa tetap bahagia. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2015.
Kalau obsesi maka gagal UN bisa jadi akhir segalanya, kalau belajar dengan cinta maka ternikmati hasil dan juga caranya.
Cari terus cara belajar yang paling nikmat. Lalu nikmati. Belajar dengan bahagia. Ilmu itu indah seperti suasana pagi yang segar.
Karena UN itu bagian dari proses belajar. Mestinya ya tetap harus bahagia. Tidak perlu ada ketegangan.
Bahkan jika pun tidak lulus mestinya biasa saja. Karena itu hanya mengukur kemampuan. Jika belum bisa ya ulangi lagi.
Yang membuat seram ketidaklulusan adalah rasa malu. Dan itu penyakit hati para pembelajar.
Yang seharusnya malu itu jika tak bisa namun ngotot pingin lulus. Itu curang. Bohong pada diri sendiri.
Mari terus cintai ilmu. Dan terus belajar dengan cinta. Dan jangan lupa tetap bahagia. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2015.
Langganan:
Postingan (Atom)
Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...
-
Mereka, para Shahabat Rosulillah itu membaca "Ayat-ayat Allah" dan juga sabda Rosulullah SAW, tidak sekedar sebagai "pesan...
-
"Jika benar kau pemerhati hal-hal sederhana, maka apa yang paling tercatat di mula pertemuan kita dulu?" Mungkin jawabannya adalah...
-
Buku MADILOG, Materialisme, Dialektika dan Logika adalah buku karya Tan Malaka yang kaya. Berisi banyak pengetahuan. Tak kebayang buku ini...