Yang tersirat di hati itu tak tersurat namun jadi energi utama atas amalan.
Menyedihkan saat sandarkan amal untuk anggapan orang saja. Menjadi mudah terluka.
Membangun citra itu tragis, karena fitnah bertebaran. Dan itu menjadi sayatan perih saat kita tak pandai abaiakannya.
Memang beda antara citra dan reputasi. Walau keduanya masih beranjak dari anggapan manusia.
Citra tentang kita ingin orang bilang apa sedang reputasi itu soal apa kata orang tentang kita.
Padahal membangun karakter lebih penting dari sekedar citra dan reputasi.
karena kata adalah awal dunia; butuh ruang untuk memelihara "kata" sejak ada di "pikiran", "lisan", bahkan "tulisan".
Minggu, 14 Desember 2014
Sabtu, 13 Desember 2014
Filodiri
Saat malam, saat bercakap dengan diri. Kita ada dalam dimensi ruang dan waktu. Ada di waktu sekarang itu berarti sebelum nanti dan setelah tadi. Kini itu karena tadi dan untuk nanti.
Pemahaman kita bermula dari ketidaktahuan yang memicu pencarian. Berterima kasihlah pada ketidaktahuan kita.
Pencerahan kita bermula dari pekatnya gelap yang membuat pupil mata sesuaikan diri. Terang lahir dari gelap.
Selalu ada alasan di setiap perbuatan. Alasan yang masuk akal dan alasan yang sebenarnya. Memahami alasan yang sebenarnya membuat kita tenang, sebaliknya alasan yang masuk akal terkadang sesatkan langkah.
Masuk akal tak lalu benar. Karena akal demikian terbatas. Yang diketahui oleh akal sedikit sekali dibanding yang tak diketahuinya.
Jangan bangga jika pandai berkata kata, karena kata bisa sedemikian naif dalam menyembunyikan alasan yang sebenarnya.
Kata itu hanya kemasan untuk alasan masuk akal bersembunyi, sedangkan fakta itu baru wilayah alasan yang sebenarnya.
Karenanya saat tak lagi populer itu hal yang layak disyukuri, karena akan berkurang potensi mencari-cari alasan yang masuk akal, hingga dapa fokus pada alasan yang sebenarnya.
Wallohu a'lam.
Pemahaman kita bermula dari ketidaktahuan yang memicu pencarian. Berterima kasihlah pada ketidaktahuan kita.
Pencerahan kita bermula dari pekatnya gelap yang membuat pupil mata sesuaikan diri. Terang lahir dari gelap.
Selalu ada alasan di setiap perbuatan. Alasan yang masuk akal dan alasan yang sebenarnya. Memahami alasan yang sebenarnya membuat kita tenang, sebaliknya alasan yang masuk akal terkadang sesatkan langkah.
Masuk akal tak lalu benar. Karena akal demikian terbatas. Yang diketahui oleh akal sedikit sekali dibanding yang tak diketahuinya.
Jangan bangga jika pandai berkata kata, karena kata bisa sedemikian naif dalam menyembunyikan alasan yang sebenarnya.
Kata itu hanya kemasan untuk alasan masuk akal bersembunyi, sedangkan fakta itu baru wilayah alasan yang sebenarnya.
Karenanya saat tak lagi populer itu hal yang layak disyukuri, karena akan berkurang potensi mencari-cari alasan yang masuk akal, hingga dapa fokus pada alasan yang sebenarnya.
Wallohu a'lam.
Rabu, 10 Desember 2014
Mengakhri badai dengan biasa
Terkadang memang perjalanan itu tak seindah bayangan kita. Indah di awal, seru dan bergelora di bagian tengah, namun antiklimaks di akhirnya. Akhir yang biasa biasa saja. Bahkan ada penyesalan pada akhirnya.
Padahal yang biasa teringat oleh kita adalah proses akhirnya, walau banyak dari kita yang meyakini bahwa menikmati proses bukan hasil, namun kenyataannya yang terakhirlah yang mudah kita ingat.
Seperti saat bermimpi, jika itu mimpi yang panjang biasanya saat terbangun kita hanya menyisakan ingatan tentang mimpi itu pada fragmen terakhirnya, awalnya mungkin lupa, bagian tengah bisa jadi kehilangan detailnya.
Begitupun saat badai itu datang, mencekamnya di awal itu luar biasa, ketegangan yang panjang di pertengahan itu seru dan heboh. Banyak rasa yang ikut terbangun dalam proses itu. Harapan, ketakutan, penasaran, antusias... cinta mungkin juga rindu.
Namun pada akhirnya, badai berlalu begitu saja. Langit tiba-tiba cerah. Perasaan lega kuasai hati walaupun sebenarnya terasa kurang asyik.
Entahlah.
Angin berdesir
Angin berdesir sepanjang hari....
dan detak jantung menjadi tak beraturan
betapa gelora itu tak sanggup ditahan....
menerjang hingga poranda tirai norma...
Dan demikianlah jangkar itu dilemparkan,
karena setelah itu hati jadi demikian terikat. Keseluruh hari menjadi penuh olehmu.
Dan percakapan pada nurani
yang membuyarkan bangunan mimpi
karena malu ternyata selalu punya ruang dan waktu,
untuk bersembunyi untuk kelak bangkit memimpin hari.
Angin berdesir, juga aku berdesir
Sehari penuh
Penuh olehmu.
dan detak jantung menjadi tak beraturan
betapa gelora itu tak sanggup ditahan....
menerjang hingga poranda tirai norma...
Dan demikianlah jangkar itu dilemparkan,
karena setelah itu hati jadi demikian terikat. Keseluruh hari menjadi penuh olehmu.
Dan percakapan pada nurani
yang membuyarkan bangunan mimpi
karena malu ternyata selalu punya ruang dan waktu,
untuk bersembunyi untuk kelak bangkit memimpin hari.
Angin berdesir, juga aku berdesir
Sehari penuh
Penuh olehmu.
Senin, 08 Desember 2014
Berkumpul bersama.
Kami berkumpul di lereng gunung, bersama ratusan sahabat. Dengan niat yang sama, jalankan pelatihan diri sebagai bagian dari ibadah kepada-Nya. Semangat ketaatan itu mewarnai segenap acara. Sehingga dalam padatnya agenda, dan angin dingin juga hujan, kami tetap diringankan untuk melaksanakan ibadah-ibadah harian kami.
Ada sepenggal fragmen yang rasanya akan lama dalam ingatan, ialah saat sampai di puncak gunung, dalam hujan dan pekatnya kabut. Berdesakan antri, karena lereng tak memungkinkan dilalui selain harus satu persatu. Dingin mencengkeram. Awalnya hanya kulit dan tubuh, perlahan mulai mengganggu otak dan akal sehat. Kami mencoba mengusirnya dengan tetap bergerak dan tetap mengunyah bekal yang kami bawa. Sampai akhirnya ada seorang dari kami membaca ma'tsurat - dzikir rutin pagi dan sore. Lantunannya langsung diikuti oleh kami. Perlahan semakin mengeras. Ratusan mulut itu bersama menggumamkan dzikir tersebut. Bergumam memenuhi alam, puncak gunung itu serasa ikut berdzikir. Dingin kami mulai terusir, namun kini yang aku rasakan justru merinding. Campur aduk. Rasa sebagai hamba yang kecil dan lemah. Tak ada apa pun dapat kami lakukan selain atas izin-Nya. Air mata mulai menyatu dengan tetes hujan.
Ada lagi kejadian yang aku catat sebagai keindahan suasana. Padahal mungkin ini hanya kejadian sederhana. Adalah suatu pagi selepas dzikir pagi dan sarapan, kami diminta berkumpul di lapangan. Karena lapangan di tengah tenda-tenda kami tak begitu luas, maka beberapa kami berdiri saja di depan tenda masing-masing. Seorang instruktur memimpin, awalnya ia gunakan pengeras suara, namun saat mulai memimpin senam, pengeras suara diletakkan. Hanya suara dia yang sayup-sayup terdengar. Secara otomatis, beberapa dari kami ikut membantu mengulang hitungan, sehingga terdengar suara hitungan yang semakin keras, kompak. Dan karena aku duduk di barisan belakang, maka terlihat gerakan yang rapi dengan irama suara hitungan yang padu. Indah. Hingga saat instruktur mengajak membuat lompatan yang bergantian, agar serupa dengan gelombang, kami melakukannya dengan indahnya. setiap lompatan kami ikuti dengan teriakan, sehingga gelombang manusia dan alunan teriakan itu serupa gelombang ombak dengan suara deburannya. Dan puncaknya saat selesai, kami spontan bertakbir bersama.
Demikianlah, satu rangkaian acara pelatihan yang tak terlupakan. Melahirkan kesadaran, bahwa kita memang kecil, kerdil, dan lemah. Namun jika bersama dalam satu barisan yang kokoh, pastilah kita menjadi kekuatan raksasa dan dahsyat. Dikumpulkan oleh cinta kepada-Nya, dipertemukan oleh ketaatan kepada-Nya. disatukan oleh dakwah kepada-Nya, dan terikat janji untuk terus menolong syari'at-Nya. Semoga Allah SWT eratkan ikatan ini. Aamiin.
Papandayan, desember 2014.
Ada sepenggal fragmen yang rasanya akan lama dalam ingatan, ialah saat sampai di puncak gunung, dalam hujan dan pekatnya kabut. Berdesakan antri, karena lereng tak memungkinkan dilalui selain harus satu persatu. Dingin mencengkeram. Awalnya hanya kulit dan tubuh, perlahan mulai mengganggu otak dan akal sehat. Kami mencoba mengusirnya dengan tetap bergerak dan tetap mengunyah bekal yang kami bawa. Sampai akhirnya ada seorang dari kami membaca ma'tsurat - dzikir rutin pagi dan sore. Lantunannya langsung diikuti oleh kami. Perlahan semakin mengeras. Ratusan mulut itu bersama menggumamkan dzikir tersebut. Bergumam memenuhi alam, puncak gunung itu serasa ikut berdzikir. Dingin kami mulai terusir, namun kini yang aku rasakan justru merinding. Campur aduk. Rasa sebagai hamba yang kecil dan lemah. Tak ada apa pun dapat kami lakukan selain atas izin-Nya. Air mata mulai menyatu dengan tetes hujan.
Ada lagi kejadian yang aku catat sebagai keindahan suasana. Padahal mungkin ini hanya kejadian sederhana. Adalah suatu pagi selepas dzikir pagi dan sarapan, kami diminta berkumpul di lapangan. Karena lapangan di tengah tenda-tenda kami tak begitu luas, maka beberapa kami berdiri saja di depan tenda masing-masing. Seorang instruktur memimpin, awalnya ia gunakan pengeras suara, namun saat mulai memimpin senam, pengeras suara diletakkan. Hanya suara dia yang sayup-sayup terdengar. Secara otomatis, beberapa dari kami ikut membantu mengulang hitungan, sehingga terdengar suara hitungan yang semakin keras, kompak. Dan karena aku duduk di barisan belakang, maka terlihat gerakan yang rapi dengan irama suara hitungan yang padu. Indah. Hingga saat instruktur mengajak membuat lompatan yang bergantian, agar serupa dengan gelombang, kami melakukannya dengan indahnya. setiap lompatan kami ikuti dengan teriakan, sehingga gelombang manusia dan alunan teriakan itu serupa gelombang ombak dengan suara deburannya. Dan puncaknya saat selesai, kami spontan bertakbir bersama.
Demikianlah, satu rangkaian acara pelatihan yang tak terlupakan. Melahirkan kesadaran, bahwa kita memang kecil, kerdil, dan lemah. Namun jika bersama dalam satu barisan yang kokoh, pastilah kita menjadi kekuatan raksasa dan dahsyat. Dikumpulkan oleh cinta kepada-Nya, dipertemukan oleh ketaatan kepada-Nya. disatukan oleh dakwah kepada-Nya, dan terikat janji untuk terus menolong syari'at-Nya. Semoga Allah SWT eratkan ikatan ini. Aamiin.
Papandayan, desember 2014.
Rabu, 03 Desember 2014
Yang tiba-tiba mengada di rongga kepala.
Tiba-tiba saja, ini yang aku pikirkan:
-Satu-
Terkadang dalam menetapkan pilihan, kita menambahkan syarat
yang justru menjauhkan dari substansi atas dasar pilihan tersebut. Syarat
formal itu sengaja kita tambahkan agar kita lebih mudah mencoret salah satu
pilihan yang terlihat sama baiknya.
-Dua-
Ternyata pada kebanyakan orang yang sukses justru
karena kepandaian membaca “yang tersembunyi” dari beberapa pilihan. Artinya
yang terlihat dan terkesan masuk akal itu belum tentu baik pada akhirnya untuk
kita.
Lalu esok harinya, skema ini yang muncul di kepalaku:
Sesuatu perbuatan itu pasti punya alasan, paling tidak ada dua jenis alasan (terima
kasih pak Didi M Saleh atas ilmunya.):
1.
Alasan yang masuk akal, dan
2.
Alasan yang sebenarnya.
Alasan yang sebenarnya dipengaruhi oleh:
1.
Internal (dalam), yaitu factor niat, motivasi,
hasrat, keinginan, dasar pemikiran, dan sebagainya.
2.
Eksternal (luar), adalah situasi dan kondisi,
suasana yang melingkupi, lingkungan di sekitar, peristiwa yang terjadi, dan
sebagainya.
Memahami hal-hal di atas akan sangat membantu kita, untuk
dapat memaklumi apapun yang terjadi di sekitar kita. Menjadi lebih bijaksana
dalam menyikapi, dan mengambil keputusan.
Selasa, 02 Desember 2014
Para pejalan malam
Seperti para pejalan malam itu,
yang tertunduk berbaris....
Melewati bukit bebatuan, tanpa lentera...
Sesekali mereka terpeleset, terjerembab, namun segera bangkit.
Mereka enggan barisannya menjadi tak beraturan.
Padahal lutut mereka menjadi terluka,
beberapa dari mereka bahkan berdarah....
Tetesannya mengalir hingga ke telapak kaki.
Hingga tersisa jejak kaki warna merah, di jalanan bebatuan di bukit saat malam benar-benar larut dalam kelam.
Seperti para pejalan malam itu,
kenangan berbaris rapi,
dalam pematang yang membatasi lelumpuran kenangan dalam genangan sel kelabu otakku....
Iya... kenangan.
Dan berseragam warna kemerahan, laskar amarah yang menjaga tanggul keinginan....
Karena khawatir kenangan masa silam itu, akan memberangusnya....
Hingga keinginan terserak, tak tersisa.
yang tertunduk berbaris....
Melewati bukit bebatuan, tanpa lentera...
Sesekali mereka terpeleset, terjerembab, namun segera bangkit.
Mereka enggan barisannya menjadi tak beraturan.
Padahal lutut mereka menjadi terluka,
beberapa dari mereka bahkan berdarah....
Tetesannya mengalir hingga ke telapak kaki.
Hingga tersisa jejak kaki warna merah, di jalanan bebatuan di bukit saat malam benar-benar larut dalam kelam.
Seperti para pejalan malam itu,
kenangan berbaris rapi,
dalam pematang yang membatasi lelumpuran kenangan dalam genangan sel kelabu otakku....
Iya... kenangan.
Dan berseragam warna kemerahan, laskar amarah yang menjaga tanggul keinginan....
Karena khawatir kenangan masa silam itu, akan memberangusnya....
Hingga keinginan terserak, tak tersisa.
Langganan:
Postingan (Atom)
Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...
-
Mereka, para Shahabat Rosulillah itu membaca "Ayat-ayat Allah" dan juga sabda Rosulullah SAW, tidak sekedar sebagai "pesan...
-
"Jika benar kau pemerhati hal-hal sederhana, maka apa yang paling tercatat di mula pertemuan kita dulu?" Mungkin jawabannya adalah...
-
Buku MADILOG, Materialisme, Dialektika dan Logika adalah buku karya Tan Malaka yang kaya. Berisi banyak pengetahuan. Tak kebayang buku ini...