Jumat, 17 Oktober 2014

Sesaat setelah melayat.

Dalam tiga hari ini, ada empat berita duka di sekitar rumahku.

Dan selalu saja, dalam setiap se-saat setelah pergi melayat, aku rindu untuk kembali membaca puisi ini. Puisi tentang kematian yang semakin akrab.

DAN KEMATIAN MAKIN AKRAB
(Sebuah Nyanyian Kabung)
Oleh :
Subagio Sastrowardoyo

...
Di muka pintu masih
bergantung tanda kabung
Seakan ia tak akan kembali
memang ia tak kembali
tapi ada yang mereka tak
mengerti - mengapa ia tinggal diam
waktu berpisah. bahkan tak
ada kesan kesedihan
pada muka
dan mata itu, yang terus
memandang, seakan mau bilang
dengan bangga : - Matiku muda -
Ada baiknya
mati muda dan mengikut
mereka yang gugur sebelum waktunya
Di ujung musim yang mati dulu
bukan yang dirongrong penyakit
tua, melainkan dia
yang berdiri menentang angin
di atas bukit atau dekat pantai
dimana badai mengancam nyawa.
Sebelum umur pahlawan ditanam
di gigir gunung atau di taman-taman
di kota
tempat anak-anak main
layang-layang. Di jam larut
daun ketapang makin lebat berguguran
di luar rencana
Dan kematian jadi akrab, seakan kawan berkelakar
yang mengajak
tertawa - itu bahasa
semesta yang dimengerti -
Berhadapan muka
seperti lewat kaca
bening
masih dikenal raut muka
bahkan kelihatan bekas luka
dekat kening
Ia menggapai tangan
di jari melekat cincin
- Lihat, tak ada batas
antara kita. Aku masih
terikat kepada dunia
karena janji karena kenangan
Kematian hanya selaput
gagasan yang gampang diseberangi
Tak ada yang hilang dalam
perpisahan, semua
pulih
juga angan-angan dan selera
keisengan -
Di ujung musim
dinding batas bertumbangan
dan kematian makin akrab
Sekali waktu bocah
cilik tak lagi
sedih karena layang-layangnya
robek atau hilang
-Lihat, bu, aku tak menangis
sebab aku bisa terbang sendiri
dengan sayap
ke langit -

Rabu, 08 Oktober 2014

something to nothing?

Dari sesuatu menjadi bukan apa-apa. Adalah ungkapan tentang proses kehilangan makna. Entahlah.... mungkinkah hilang? Atau sekedar perubahan wujud? Bukankah air tak lalu hilang saat berubah menjadi uap, lalu menyatu dengan awan, dan pada akhirnya akan kembali turun ke bumi sebagai hujan.

Mungkin tak ada yang lalu moksa, sirna, atau raib.... hanya mengada sebagai wujud yang lain.

Apakah sunyi lalu berubah gaduh itu maka sunyi menepi, memberi ruang pada kegaduhan, atau sunyi dalam wujud lain itu adalah kegaduhan? Sebagai interlude dalam sebuah lagu, selalu ada jeda di setiap birama.

Mungkin juga kita.

Adalah birama yang menyediakan jeda berupa interlude, yang melengkapi irama. Karena bagaimana mugkin ada irama, jika tak ada jeda. Bukankah irama itu rangkaian jeda-jeda yang berulang secara indah.... mungkin indahnya karena pengulangannya serupa dengan detak jantung kita, atau bisa juga karena jeda itu serupa sapuan buih di pantai yang ajeg, atau serupa dengan senyummu yang datang berulang di setiap rangkaian hari?

Mungkin saja ini tentang kita. Tapi entahlah.

terbang

Ayo, aku ajari kau terbang
Tapi mana sayapnya?
Bukankah tak ada terbang tanpa kepakan, dan tak ada kepakan tanpa sayap?
Bagaimana mungkin?

Ayo, percaya sajalah
Terbangnya kita berbeda dg terbangnya unggas, ini tentang mengambang di awan.
Adalah dengan mengisi penuh benak, biarkan hingga menggelembung..... biarkan mimpi menjadi bahan bakar, dan senyap menjadi kepakan sayap.
Cobalah....

Baiklah, kurelakan segenapku padamu....
Hasratku kubiar terkapar dalam harapan palsumu, dan rinduku tergugu tanpa malu. Bisu.

Ayo, segeralah bersiap melayang, karena ruang mulai menghilang...
Dan perkara atas bawah menjadi raib, senyummu....
Senyumku....
Moksa dalam cahaya perak.

Luluh.
Tumbuh.
Tumbuh.
Larut dalam jenuh.
Mempekat.

akar dan tunas Rasa

memerdekakan rasa adalah cela, bagi akal si penguasa
tak ingin rasa yang berjaya
kuasai gerak hati dan isi bumi

lalu ingin basuh jelaga di dahi
tapi enggan usir mimpi
terlalu indah diabai
terlalu mempesona ntuk diratapi

memenjarakan rasa adalah curiga yang abadi
bagi si akal yang pongah
melangkah gagah injak-injak akarnya

dan tunas meronta
tumbuh dan
tumbuh.

Selasa, 07 Oktober 2014

Kopi Sepi

... dan angin berdendang saja di telinga

melangkah adalah kata kerja
yang pantas dilekatkan dalam pagi

karena waktu berloncatan
ide berlinangan menetes saja
menjadi genangan di cawan hari

... dan angin menari di retina mata

menenggak kopi sepi adalah rima
dari cengkerama pagi yang menepi
menjadi parameng kawi mimpi

... dan angin menemani hari di liang sunyi

padahal gempita
padahal cuaca meradang
padahal gemuruh mengeluh

... dan angin aku sapih, kubiarkan dalam lipatan lengan bajuku.

Selasa, 16 September 2014

#entah yang marah

Kenyataan yang dipertontonkan di media menjadi terlalu sering mengecewakan, bagaimana tidak... saat pencitraan menjadi begitu dominan. Seolah setiap tokoh cerita dalam berita itu menjadi punakawan yang petakilan, sebagian lain menjadi Sengkuni yang tega jilat pantat panci yang gosong oleh dusta yang menyemesta. Sementara yang masih ingin bertahan perjuangkan idealismenya justru diberangus, dengan jebakan media dan prosedur yang melecehkan substansi dan mengagungkan formalitas belaka.

Dunia macam apa ini, saat kejujuran menjadi kehilangan birama. Setiap yang mencoba jujur menjadi Fals, menjadi sumbang. Lalu penonton sepontan melototinya, bahkan beberapa ada yang melemparinya dengan botol kosong. Ah... menyedihkan.

Aku khawatir jika aku teruskan tetap berdiri jadi penonton, aku bisa kehilangan kendali. Menjadi liar karena marah yang frustasi, atau mendadak bego plonga plongo saksikan kebenaran dikebiri tanpa bisa berbuat apa apa. Dan sang Sengkuni lah yang petentengan di atas panggung, seolah semua kebenaran bermuara di dirinya. Tunjuk sana tunjuk sini, seolah semua rela mematuhinya. Padahal rasa terpaksa itu memang tak akan nampak di permukaan. Jika terlihat, bukan senapan yang digunakan untuk mengakhiri hidup para pembangkang itu, melainkan dengan kekuatan fitnah yang beruntun segera mendera. Hingga luluh lantak kehilangan harga diri. Lelakon hidup memang terlihat lebih beradab dibanding pendahulunya yang sering main tembak, namun bukankah "Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan?"

Mungkin kita sudah sedemikian keji. Menebar hal yang lebih dari pembunuhan itu ke pelosok negeri. Juga mengunyah daging bangsanya sendiri, saat asyek bercengkerama dalam gunjing yang berkesinambungan.

Agh, mengapa tulisanku hari ini menjadi penuh kemarahan....

Daripada memaki kegelapan lebih baik menyalakan lilin. Hmmmm....

Baiklah, aku mulai nyalakan lilin di sini. Di dalam diri. Nyala lilinnya adalah kenikmatan dalam sepi. Menjauh carut marut popularitas. Bersihkan diri dari gairah untuk mendapatkan pujian dan citra dari manusia. Seperti kata Tuhan.... "Bekerjalah, cukuplah Alloh dan Rosul-Nya yang melihatmu bekerja."

Wallohu A'lam.

Senin, 11 Agustus 2014

jaga hati

Ternyata serangan itu datang dari perasaan nyaman saat menerima pujian. Sulit mengingkari bahwa pujian itu nikmat dan indah. Terkadang kita berdalih sebagai motivasi.

Benar kata ustadz, saat terima pujian ingatlah kalimat Hamdalah, bahwa pujian hanya milik Alloh. Jangan pikul pujian itu sendirian, ia akan jadi beban, semakin lama semakin berat. Suatu hari bisa rubuhkan kita. Mungkin ini jawaban mengapa banyak tokoh terjerembab justru pada saat banyak pujian yang ia terima. Jika mendapatkan pujian segeralah kirim ke Alloh, segala puji untuk-Nya, agar ringan langkah kita.

Bersyukurlah saat prestasi kita tersembunyi, karena itu berarti terselamatkannya kita dari godaan pujian.

Jika pujian itu pintu serangan, bisa jadi cacian dan hinaan itu justru pil pahit yang menyehatkan. Penolakan atas cacian dan hinaan, mungkin seperti melepeh pil itu, tak lagi pahit, namun kita kehilangan kesempatan untuk sembuh. Penolakan atas hinaan itu biasanya dengan dalih nama baik, mungkin angapan orang lain atas diri kita ini terlalu penting. Padahal bisa jadi ini jebakan, sehingga kita tak pernah dapat hikmah dari cacian dan hinaan itu.

Cobalah nikmati rasanya. Cacian itu seperti gelombang radar yang membentur objek, benturan itu perlu untuk menangkap pesannya.
Bagaimana cara menikmati cacian dan hinaan? Entahlah. Tapi bisa diawali dengan kalimat ini: "kita mungkin memang pantas mendapatkannya".

Mengapa kita tak pantas dicaci dan dihina, sementara banyak para nabi dan orang suci  pun mendapatkannya? Tak perlu terluka.

Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...