Dari sesuatu menjadi bukan apa-apa. Adalah ungkapan tentang proses kehilangan makna. Entahlah.... mungkinkah hilang? Atau sekedar perubahan wujud? Bukankah air tak lalu hilang saat berubah menjadi uap, lalu menyatu dengan awan, dan pada akhirnya akan kembali turun ke bumi sebagai hujan.
Mungkin tak ada yang lalu moksa, sirna, atau raib.... hanya mengada sebagai wujud yang lain.
Apakah sunyi lalu berubah gaduh itu maka sunyi menepi, memberi ruang pada kegaduhan, atau sunyi dalam wujud lain itu adalah kegaduhan? Sebagai interlude dalam sebuah lagu, selalu ada jeda di setiap birama.
Mungkin juga kita.
Adalah birama yang menyediakan jeda berupa interlude, yang melengkapi irama. Karena bagaimana mugkin ada irama, jika tak ada jeda. Bukankah irama itu rangkaian jeda-jeda yang berulang secara indah.... mungkin indahnya karena pengulangannya serupa dengan detak jantung kita, atau bisa juga karena jeda itu serupa sapuan buih di pantai yang ajeg, atau serupa dengan senyummu yang datang berulang di setiap rangkaian hari?
Mungkin saja ini tentang kita. Tapi entahlah.
karena kata adalah awal dunia; butuh ruang untuk memelihara "kata" sejak ada di "pikiran", "lisan", bahkan "tulisan".
Rabu, 08 Oktober 2014
terbang
Ayo, aku ajari kau terbang
Tapi mana sayapnya?
Bukankah tak ada terbang tanpa kepakan, dan tak ada kepakan tanpa sayap?
Bagaimana mungkin?
Ayo, percaya sajalah
Terbangnya kita berbeda dg terbangnya unggas, ini tentang mengambang di awan.
Adalah dengan mengisi penuh benak, biarkan hingga menggelembung..... biarkan mimpi menjadi bahan bakar, dan senyap menjadi kepakan sayap.
Cobalah....
Baiklah, kurelakan segenapku padamu....
Hasratku kubiar terkapar dalam harapan palsumu, dan rinduku tergugu tanpa malu. Bisu.
Ayo, segeralah bersiap melayang, karena ruang mulai menghilang...
Dan perkara atas bawah menjadi raib, senyummu....
Senyumku....
Moksa dalam cahaya perak.
Luluh.
Tumbuh.
Tumbuh.
Larut dalam jenuh.
Mempekat.
Tapi mana sayapnya?
Bukankah tak ada terbang tanpa kepakan, dan tak ada kepakan tanpa sayap?
Bagaimana mungkin?
Ayo, percaya sajalah
Terbangnya kita berbeda dg terbangnya unggas, ini tentang mengambang di awan.
Adalah dengan mengisi penuh benak, biarkan hingga menggelembung..... biarkan mimpi menjadi bahan bakar, dan senyap menjadi kepakan sayap.
Cobalah....
Baiklah, kurelakan segenapku padamu....
Hasratku kubiar terkapar dalam harapan palsumu, dan rinduku tergugu tanpa malu. Bisu.
Ayo, segeralah bersiap melayang, karena ruang mulai menghilang...
Dan perkara atas bawah menjadi raib, senyummu....
Senyumku....
Moksa dalam cahaya perak.
Luluh.
Tumbuh.
Tumbuh.
Larut dalam jenuh.
Mempekat.
akar dan tunas Rasa
memerdekakan rasa adalah cela, bagi akal si penguasa
tak ingin rasa yang berjaya
kuasai gerak hati dan isi bumi
lalu ingin basuh jelaga di dahi
tapi enggan usir mimpi
terlalu indah diabai
terlalu mempesona ntuk diratapi
memenjarakan rasa adalah curiga yang abadi
bagi si akal yang pongah
melangkah gagah injak-injak akarnya
dan tunas meronta
tumbuh dan
tumbuh.
tak ingin rasa yang berjaya
kuasai gerak hati dan isi bumi
lalu ingin basuh jelaga di dahi
tapi enggan usir mimpi
terlalu indah diabai
terlalu mempesona ntuk diratapi
memenjarakan rasa adalah curiga yang abadi
bagi si akal yang pongah
melangkah gagah injak-injak akarnya
dan tunas meronta
tumbuh dan
tumbuh.
Selasa, 07 Oktober 2014
Kopi Sepi
... dan angin berdendang saja di telinga
melangkah adalah kata kerja
yang pantas dilekatkan dalam pagi
karena waktu berloncatan
ide berlinangan menetes saja
menjadi genangan di cawan hari
... dan angin menari di retina mata
menenggak kopi sepi adalah rima
dari cengkerama pagi yang menepi
menjadi parameng kawi mimpi
... dan angin menemani hari di liang sunyi
padahal gempita
padahal cuaca meradang
padahal gemuruh mengeluh
... dan angin aku sapih, kubiarkan dalam lipatan lengan bajuku.
melangkah adalah kata kerja
yang pantas dilekatkan dalam pagi
karena waktu berloncatan
ide berlinangan menetes saja
menjadi genangan di cawan hari
... dan angin menari di retina mata
menenggak kopi sepi adalah rima
dari cengkerama pagi yang menepi
menjadi parameng kawi mimpi
... dan angin menemani hari di liang sunyi
padahal gempita
padahal cuaca meradang
padahal gemuruh mengeluh
... dan angin aku sapih, kubiarkan dalam lipatan lengan bajuku.
Selasa, 16 September 2014
#entah yang marah
Kenyataan yang dipertontonkan di media menjadi terlalu sering mengecewakan, bagaimana tidak... saat pencitraan menjadi begitu dominan. Seolah setiap tokoh cerita dalam berita itu menjadi punakawan yang petakilan, sebagian lain menjadi Sengkuni yang tega jilat pantat panci yang gosong oleh dusta yang menyemesta. Sementara yang masih ingin bertahan perjuangkan idealismenya justru diberangus, dengan jebakan media dan prosedur yang melecehkan substansi dan mengagungkan formalitas belaka.
Dunia macam apa ini, saat kejujuran menjadi kehilangan birama. Setiap yang mencoba jujur menjadi Fals, menjadi sumbang. Lalu penonton sepontan melototinya, bahkan beberapa ada yang melemparinya dengan botol kosong. Ah... menyedihkan.
Aku khawatir jika aku teruskan tetap berdiri jadi penonton, aku bisa kehilangan kendali. Menjadi liar karena marah yang frustasi, atau mendadak bego plonga plongo saksikan kebenaran dikebiri tanpa bisa berbuat apa apa. Dan sang Sengkuni lah yang petentengan di atas panggung, seolah semua kebenaran bermuara di dirinya. Tunjuk sana tunjuk sini, seolah semua rela mematuhinya. Padahal rasa terpaksa itu memang tak akan nampak di permukaan. Jika terlihat, bukan senapan yang digunakan untuk mengakhiri hidup para pembangkang itu, melainkan dengan kekuatan fitnah yang beruntun segera mendera. Hingga luluh lantak kehilangan harga diri. Lelakon hidup memang terlihat lebih beradab dibanding pendahulunya yang sering main tembak, namun bukankah "Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan?"
Mungkin kita sudah sedemikian keji. Menebar hal yang lebih dari pembunuhan itu ke pelosok negeri. Juga mengunyah daging bangsanya sendiri, saat asyek bercengkerama dalam gunjing yang berkesinambungan.
Agh, mengapa tulisanku hari ini menjadi penuh kemarahan....
Daripada memaki kegelapan lebih baik menyalakan lilin. Hmmmm....
Baiklah, aku mulai nyalakan lilin di sini. Di dalam diri. Nyala lilinnya adalah kenikmatan dalam sepi. Menjauh carut marut popularitas. Bersihkan diri dari gairah untuk mendapatkan pujian dan citra dari manusia. Seperti kata Tuhan.... "Bekerjalah, cukuplah Alloh dan Rosul-Nya yang melihatmu bekerja."
Wallohu A'lam.
Dunia macam apa ini, saat kejujuran menjadi kehilangan birama. Setiap yang mencoba jujur menjadi Fals, menjadi sumbang. Lalu penonton sepontan melototinya, bahkan beberapa ada yang melemparinya dengan botol kosong. Ah... menyedihkan.
Aku khawatir jika aku teruskan tetap berdiri jadi penonton, aku bisa kehilangan kendali. Menjadi liar karena marah yang frustasi, atau mendadak bego plonga plongo saksikan kebenaran dikebiri tanpa bisa berbuat apa apa. Dan sang Sengkuni lah yang petentengan di atas panggung, seolah semua kebenaran bermuara di dirinya. Tunjuk sana tunjuk sini, seolah semua rela mematuhinya. Padahal rasa terpaksa itu memang tak akan nampak di permukaan. Jika terlihat, bukan senapan yang digunakan untuk mengakhiri hidup para pembangkang itu, melainkan dengan kekuatan fitnah yang beruntun segera mendera. Hingga luluh lantak kehilangan harga diri. Lelakon hidup memang terlihat lebih beradab dibanding pendahulunya yang sering main tembak, namun bukankah "Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan?"
Mungkin kita sudah sedemikian keji. Menebar hal yang lebih dari pembunuhan itu ke pelosok negeri. Juga mengunyah daging bangsanya sendiri, saat asyek bercengkerama dalam gunjing yang berkesinambungan.
Agh, mengapa tulisanku hari ini menjadi penuh kemarahan....
Daripada memaki kegelapan lebih baik menyalakan lilin. Hmmmm....
Baiklah, aku mulai nyalakan lilin di sini. Di dalam diri. Nyala lilinnya adalah kenikmatan dalam sepi. Menjauh carut marut popularitas. Bersihkan diri dari gairah untuk mendapatkan pujian dan citra dari manusia. Seperti kata Tuhan.... "Bekerjalah, cukuplah Alloh dan Rosul-Nya yang melihatmu bekerja."
Wallohu A'lam.
Senin, 11 Agustus 2014
jaga hati
Ternyata serangan itu datang dari perasaan nyaman saat menerima pujian. Sulit mengingkari bahwa pujian itu nikmat dan indah. Terkadang kita berdalih sebagai motivasi.
Benar kata ustadz, saat terima pujian ingatlah kalimat Hamdalah, bahwa pujian hanya milik Alloh. Jangan pikul pujian itu sendirian, ia akan jadi beban, semakin lama semakin berat. Suatu hari bisa rubuhkan kita. Mungkin ini jawaban mengapa banyak tokoh terjerembab justru pada saat banyak pujian yang ia terima. Jika mendapatkan pujian segeralah kirim ke Alloh, segala puji untuk-Nya, agar ringan langkah kita.
Bersyukurlah saat prestasi kita tersembunyi, karena itu berarti terselamatkannya kita dari godaan pujian.
Jika pujian itu pintu serangan, bisa jadi cacian dan hinaan itu justru pil pahit yang menyehatkan. Penolakan atas cacian dan hinaan, mungkin seperti melepeh pil itu, tak lagi pahit, namun kita kehilangan kesempatan untuk sembuh. Penolakan atas hinaan itu biasanya dengan dalih nama baik, mungkin angapan orang lain atas diri kita ini terlalu penting. Padahal bisa jadi ini jebakan, sehingga kita tak pernah dapat hikmah dari cacian dan hinaan itu.
Cobalah nikmati rasanya. Cacian itu seperti gelombang radar yang membentur objek, benturan itu perlu untuk menangkap pesannya.
Bagaimana cara menikmati cacian dan hinaan? Entahlah. Tapi bisa diawali dengan kalimat ini: "kita mungkin memang pantas mendapatkannya".
Mengapa kita tak pantas dicaci dan dihina, sementara banyak para nabi dan orang suci pun mendapatkannya? Tak perlu terluka.
Benar kata ustadz, saat terima pujian ingatlah kalimat Hamdalah, bahwa pujian hanya milik Alloh. Jangan pikul pujian itu sendirian, ia akan jadi beban, semakin lama semakin berat. Suatu hari bisa rubuhkan kita. Mungkin ini jawaban mengapa banyak tokoh terjerembab justru pada saat banyak pujian yang ia terima. Jika mendapatkan pujian segeralah kirim ke Alloh, segala puji untuk-Nya, agar ringan langkah kita.
Bersyukurlah saat prestasi kita tersembunyi, karena itu berarti terselamatkannya kita dari godaan pujian.
Jika pujian itu pintu serangan, bisa jadi cacian dan hinaan itu justru pil pahit yang menyehatkan. Penolakan atas cacian dan hinaan, mungkin seperti melepeh pil itu, tak lagi pahit, namun kita kehilangan kesempatan untuk sembuh. Penolakan atas hinaan itu biasanya dengan dalih nama baik, mungkin angapan orang lain atas diri kita ini terlalu penting. Padahal bisa jadi ini jebakan, sehingga kita tak pernah dapat hikmah dari cacian dan hinaan itu.
Cobalah nikmati rasanya. Cacian itu seperti gelombang radar yang membentur objek, benturan itu perlu untuk menangkap pesannya.
Bagaimana cara menikmati cacian dan hinaan? Entahlah. Tapi bisa diawali dengan kalimat ini: "kita mungkin memang pantas mendapatkannya".
Mengapa kita tak pantas dicaci dan dihina, sementara banyak para nabi dan orang suci pun mendapatkannya? Tak perlu terluka.
Jumat, 04 Juli 2014
mas Joko di mataku....
Awalnya memang sepak ternjangnya mengagumkan. Terlihat sangat merakyat, dekat dan hangat. Penampilannya sederhana. Komunikasi bagus, beda. Kata-katanya tak banyak bumbu. Terlihat informal. Cengengesan. Dengan cepat aku putuskan, aku menyukainya. Lalu dimulailah petualanganku di dunia maya, berburu berita tentangnya. Dan memang banyak sekali informasi tentangnya. Hampir semua "Youtube" tentangnya aku tonton. Pernah suatu malam, aku menontonnya sampai fajar tiba. Perjalanan yang memukau, dari walikota Solo hingga jadi Gubernur DKI Jakarta.
Perlahan-lahan kekaguman itu berubah. Awalnya memang dari perbincangan dengan beberapa teman yang aktif di pemda tempat dia berdinas. Agak kaget juga, ternyata justru di internal cerita tentang dia berbeda. Aku pikir, mungkin temanku ini masih belum siap direformasi sementara pak Gubernur sudah berubah paradigmanya tentang birokrasi. Namun hasil perbincangan itu lah yang memancing aku belajar lebih jauh tentang cara ia memimpin organisasi. Ternyata memang tak banyak janji-janji politik waktu itu yang saat ini sudah dibuktikan.
Apalagi setelah ada beberapa informasi tentang proyek pencitraan dari orang-orang di belakang dia. Awalnya pun aku menyangkal, jika memang ada yang bermain di belakang dia tapi tak akan jadi jika sosok dia secara pribadi tidak mendukung. Jadi ingat teori Kapasitas dan Performance. Semestinya Performance itu dibangun dari kapasitas diri, bukan sebaliknya performance dibuat untuk memoles kapasitas diri.
Semuanya mulai nampak jelang pilpres. Banyak hal yang terkesan dipaksakan. Bagaimana cara dia menggampangkan masalah ekonomi dengan sekedar kartu. Secara ilmu marketing itu menjual, memukau rakyat kecil. Tapi tidak mendewasakan masyarakat kita. Masalah anggaran seperti dikesampingkan. Seolah-olah keuangan negara kita tidak ada masalah. Padahal pembagian kartu sehat di Jakarta saja sudah menimbulkan banyak masalah.
Menurutku dia memang hebat sebagai manajer penyelia. Manajer pengawas. Mandor. Kemampuan dia dalam mengawasi kinerja patut diacungin jempol. Walaupun blusukan itu sebenarnya indikasi tidak sehatnya hubungan atasan dan bawahan. Karena mencerminkan ketidakpercayaan atasan terhadap bawahan. Jika bicara level strategik rasanya (maaf) dia sering terlihat terlalu naif.
Entahlah.... tapi ada satu pelajaran berharga. Bahwa, perubahan memang tak bisa kita titipkan pada sosok artis yang hanya hebat untuk dicitrakan saja. Kita butuh perubahan yang sistematik. Jika dia menang dalam pilpres ini, akan seru secara dramatis... seolah-olah ada tokoh yang terlahir dari rakyat, dan muncul memimpin negeri. Terlihat keren, padahal justru akan berbahaya. Karena kemenangan itu hanya membuktikan bahwa sistem bisa kalah oleh aksi-aksi spontan. Aksi pencitraan itu terbukti berhasil, mengapa harus katakan tak ada bagi-bagi kursi padahal di belakang justru berebut dengan cara yang aneh. Mengapa juga harus berpura-pura "ora mikir" namun ternyata tetap maju juga dalam pencalonan. Mengapa harus pilih solusi kartu-kartu yang kenyataannya akan menjerumuskan kita dalam kebangkrutan, hanya demi langkah yang terlihat sok pahlawan di mata rakyat kecil....
Bisa jadi cara pandang mikroskopik yang terbiasa "Zoom in" menyorot sudut-sudut sempit saja, akan membawa bangsa ini membentur-bentur, menabrak dan mungkin saja terjatuh dalam kubangan kesalahan yang sama seperti pemilu-pemilu sebelumnya.
Entahlah.....
Perlahan-lahan kekaguman itu berubah. Awalnya memang dari perbincangan dengan beberapa teman yang aktif di pemda tempat dia berdinas. Agak kaget juga, ternyata justru di internal cerita tentang dia berbeda. Aku pikir, mungkin temanku ini masih belum siap direformasi sementara pak Gubernur sudah berubah paradigmanya tentang birokrasi. Namun hasil perbincangan itu lah yang memancing aku belajar lebih jauh tentang cara ia memimpin organisasi. Ternyata memang tak banyak janji-janji politik waktu itu yang saat ini sudah dibuktikan.
Apalagi setelah ada beberapa informasi tentang proyek pencitraan dari orang-orang di belakang dia. Awalnya pun aku menyangkal, jika memang ada yang bermain di belakang dia tapi tak akan jadi jika sosok dia secara pribadi tidak mendukung. Jadi ingat teori Kapasitas dan Performance. Semestinya Performance itu dibangun dari kapasitas diri, bukan sebaliknya performance dibuat untuk memoles kapasitas diri.
Semuanya mulai nampak jelang pilpres. Banyak hal yang terkesan dipaksakan. Bagaimana cara dia menggampangkan masalah ekonomi dengan sekedar kartu. Secara ilmu marketing itu menjual, memukau rakyat kecil. Tapi tidak mendewasakan masyarakat kita. Masalah anggaran seperti dikesampingkan. Seolah-olah keuangan negara kita tidak ada masalah. Padahal pembagian kartu sehat di Jakarta saja sudah menimbulkan banyak masalah.
Menurutku dia memang hebat sebagai manajer penyelia. Manajer pengawas. Mandor. Kemampuan dia dalam mengawasi kinerja patut diacungin jempol. Walaupun blusukan itu sebenarnya indikasi tidak sehatnya hubungan atasan dan bawahan. Karena mencerminkan ketidakpercayaan atasan terhadap bawahan. Jika bicara level strategik rasanya (maaf) dia sering terlihat terlalu naif.
Entahlah.... tapi ada satu pelajaran berharga. Bahwa, perubahan memang tak bisa kita titipkan pada sosok artis yang hanya hebat untuk dicitrakan saja. Kita butuh perubahan yang sistematik. Jika dia menang dalam pilpres ini, akan seru secara dramatis... seolah-olah ada tokoh yang terlahir dari rakyat, dan muncul memimpin negeri. Terlihat keren, padahal justru akan berbahaya. Karena kemenangan itu hanya membuktikan bahwa sistem bisa kalah oleh aksi-aksi spontan. Aksi pencitraan itu terbukti berhasil, mengapa harus katakan tak ada bagi-bagi kursi padahal di belakang justru berebut dengan cara yang aneh. Mengapa juga harus berpura-pura "ora mikir" namun ternyata tetap maju juga dalam pencalonan. Mengapa harus pilih solusi kartu-kartu yang kenyataannya akan menjerumuskan kita dalam kebangkrutan, hanya demi langkah yang terlihat sok pahlawan di mata rakyat kecil....
Bisa jadi cara pandang mikroskopik yang terbiasa "Zoom in" menyorot sudut-sudut sempit saja, akan membawa bangsa ini membentur-bentur, menabrak dan mungkin saja terjatuh dalam kubangan kesalahan yang sama seperti pemilu-pemilu sebelumnya.
Entahlah.....
Langganan:
Postingan (Atom)
Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...
-
Mereka, para Shahabat Rosulillah itu membaca "Ayat-ayat Allah" dan juga sabda Rosulullah SAW, tidak sekedar sebagai "pesan...
-
"Jika benar kau pemerhati hal-hal sederhana, maka apa yang paling tercatat di mula pertemuan kita dulu?" Mungkin jawabannya adalah...
-
Buku MADILOG, Materialisme, Dialektika dan Logika adalah buku karya Tan Malaka yang kaya. Berisi banyak pengetahuan. Tak kebayang buku ini...