Selasa, 07 Oktober 2014

Kopi Sepi

... dan angin berdendang saja di telinga

melangkah adalah kata kerja
yang pantas dilekatkan dalam pagi

karena waktu berloncatan
ide berlinangan menetes saja
menjadi genangan di cawan hari

... dan angin menari di retina mata

menenggak kopi sepi adalah rima
dari cengkerama pagi yang menepi
menjadi parameng kawi mimpi

... dan angin menemani hari di liang sunyi

padahal gempita
padahal cuaca meradang
padahal gemuruh mengeluh

... dan angin aku sapih, kubiarkan dalam lipatan lengan bajuku.

Selasa, 16 September 2014

#entah yang marah

Kenyataan yang dipertontonkan di media menjadi terlalu sering mengecewakan, bagaimana tidak... saat pencitraan menjadi begitu dominan. Seolah setiap tokoh cerita dalam berita itu menjadi punakawan yang petakilan, sebagian lain menjadi Sengkuni yang tega jilat pantat panci yang gosong oleh dusta yang menyemesta. Sementara yang masih ingin bertahan perjuangkan idealismenya justru diberangus, dengan jebakan media dan prosedur yang melecehkan substansi dan mengagungkan formalitas belaka.

Dunia macam apa ini, saat kejujuran menjadi kehilangan birama. Setiap yang mencoba jujur menjadi Fals, menjadi sumbang. Lalu penonton sepontan melototinya, bahkan beberapa ada yang melemparinya dengan botol kosong. Ah... menyedihkan.

Aku khawatir jika aku teruskan tetap berdiri jadi penonton, aku bisa kehilangan kendali. Menjadi liar karena marah yang frustasi, atau mendadak bego plonga plongo saksikan kebenaran dikebiri tanpa bisa berbuat apa apa. Dan sang Sengkuni lah yang petentengan di atas panggung, seolah semua kebenaran bermuara di dirinya. Tunjuk sana tunjuk sini, seolah semua rela mematuhinya. Padahal rasa terpaksa itu memang tak akan nampak di permukaan. Jika terlihat, bukan senapan yang digunakan untuk mengakhiri hidup para pembangkang itu, melainkan dengan kekuatan fitnah yang beruntun segera mendera. Hingga luluh lantak kehilangan harga diri. Lelakon hidup memang terlihat lebih beradab dibanding pendahulunya yang sering main tembak, namun bukankah "Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan?"

Mungkin kita sudah sedemikian keji. Menebar hal yang lebih dari pembunuhan itu ke pelosok negeri. Juga mengunyah daging bangsanya sendiri, saat asyek bercengkerama dalam gunjing yang berkesinambungan.

Agh, mengapa tulisanku hari ini menjadi penuh kemarahan....

Daripada memaki kegelapan lebih baik menyalakan lilin. Hmmmm....

Baiklah, aku mulai nyalakan lilin di sini. Di dalam diri. Nyala lilinnya adalah kenikmatan dalam sepi. Menjauh carut marut popularitas. Bersihkan diri dari gairah untuk mendapatkan pujian dan citra dari manusia. Seperti kata Tuhan.... "Bekerjalah, cukuplah Alloh dan Rosul-Nya yang melihatmu bekerja."

Wallohu A'lam.

Senin, 11 Agustus 2014

jaga hati

Ternyata serangan itu datang dari perasaan nyaman saat menerima pujian. Sulit mengingkari bahwa pujian itu nikmat dan indah. Terkadang kita berdalih sebagai motivasi.

Benar kata ustadz, saat terima pujian ingatlah kalimat Hamdalah, bahwa pujian hanya milik Alloh. Jangan pikul pujian itu sendirian, ia akan jadi beban, semakin lama semakin berat. Suatu hari bisa rubuhkan kita. Mungkin ini jawaban mengapa banyak tokoh terjerembab justru pada saat banyak pujian yang ia terima. Jika mendapatkan pujian segeralah kirim ke Alloh, segala puji untuk-Nya, agar ringan langkah kita.

Bersyukurlah saat prestasi kita tersembunyi, karena itu berarti terselamatkannya kita dari godaan pujian.

Jika pujian itu pintu serangan, bisa jadi cacian dan hinaan itu justru pil pahit yang menyehatkan. Penolakan atas cacian dan hinaan, mungkin seperti melepeh pil itu, tak lagi pahit, namun kita kehilangan kesempatan untuk sembuh. Penolakan atas hinaan itu biasanya dengan dalih nama baik, mungkin angapan orang lain atas diri kita ini terlalu penting. Padahal bisa jadi ini jebakan, sehingga kita tak pernah dapat hikmah dari cacian dan hinaan itu.

Cobalah nikmati rasanya. Cacian itu seperti gelombang radar yang membentur objek, benturan itu perlu untuk menangkap pesannya.
Bagaimana cara menikmati cacian dan hinaan? Entahlah. Tapi bisa diawali dengan kalimat ini: "kita mungkin memang pantas mendapatkannya".

Mengapa kita tak pantas dicaci dan dihina, sementara banyak para nabi dan orang suci  pun mendapatkannya? Tak perlu terluka.

Jumat, 04 Juli 2014

mas Joko di mataku....

Awalnya memang sepak ternjangnya mengagumkan. Terlihat sangat merakyat, dekat dan hangat. Penampilannya sederhana. Komunikasi bagus, beda. Kata-katanya tak banyak bumbu. Terlihat informal. Cengengesan. Dengan cepat aku putuskan, aku menyukainya. Lalu dimulailah petualanganku di dunia maya, berburu berita tentangnya. Dan memang banyak sekali informasi tentangnya. Hampir semua "Youtube" tentangnya aku tonton. Pernah suatu malam, aku menontonnya sampai fajar tiba. Perjalanan yang memukau, dari walikota Solo hingga jadi Gubernur DKI Jakarta.

Perlahan-lahan kekaguman itu berubah. Awalnya memang dari perbincangan dengan beberapa teman yang aktif di pemda tempat dia berdinas. Agak kaget juga, ternyata justru di internal cerita tentang dia berbeda. Aku pikir, mungkin temanku ini masih belum siap direformasi sementara pak Gubernur sudah berubah paradigmanya tentang birokrasi. Namun hasil perbincangan itu lah yang memancing aku belajar lebih jauh tentang cara ia memimpin organisasi. Ternyata memang tak banyak janji-janji politik waktu itu yang saat ini sudah dibuktikan.

Apalagi setelah ada beberapa informasi tentang proyek pencitraan dari orang-orang di belakang dia. Awalnya pun aku menyangkal, jika memang ada yang bermain di belakang dia tapi tak akan jadi jika sosok dia secara pribadi tidak mendukung. Jadi ingat teori Kapasitas dan Performance. Semestinya Performance itu dibangun dari kapasitas diri, bukan sebaliknya performance dibuat untuk memoles kapasitas diri.

Semuanya mulai nampak jelang pilpres. Banyak hal yang terkesan dipaksakan. Bagaimana cara dia menggampangkan masalah ekonomi dengan sekedar kartu. Secara ilmu marketing itu menjual, memukau rakyat kecil. Tapi tidak mendewasakan masyarakat kita. Masalah anggaran seperti dikesampingkan. Seolah-olah keuangan negara kita tidak ada masalah. Padahal pembagian kartu sehat di Jakarta saja sudah menimbulkan banyak masalah.

Menurutku dia memang hebat sebagai manajer penyelia. Manajer pengawas. Mandor. Kemampuan dia dalam mengawasi kinerja patut diacungin jempol. Walaupun blusukan itu sebenarnya indikasi tidak sehatnya hubungan atasan dan bawahan. Karena mencerminkan ketidakpercayaan atasan terhadap bawahan. Jika bicara level strategik rasanya (maaf) dia sering terlihat terlalu naif.

Entahlah.... tapi ada satu pelajaran berharga. Bahwa, perubahan memang tak bisa kita titipkan pada sosok artis yang hanya hebat untuk dicitrakan saja. Kita butuh perubahan yang sistematik. Jika dia menang dalam pilpres ini, akan seru secara dramatis... seolah-olah ada tokoh yang terlahir dari rakyat, dan muncul memimpin negeri. Terlihat keren, padahal justru akan berbahaya. Karena kemenangan itu hanya membuktikan bahwa sistem bisa kalah oleh aksi-aksi spontan. Aksi pencitraan itu terbukti berhasil, mengapa harus katakan tak ada bagi-bagi kursi padahal di belakang justru berebut dengan cara yang aneh. Mengapa juga harus berpura-pura "ora mikir" namun ternyata tetap maju juga dalam pencalonan. Mengapa harus pilih solusi kartu-kartu yang kenyataannya akan menjerumuskan kita dalam kebangkrutan, hanya demi langkah yang terlihat sok pahlawan di mata rakyat kecil....

Bisa jadi cara pandang mikroskopik yang terbiasa "Zoom in" menyorot sudut-sudut sempit saja, akan membawa bangsa ini membentur-bentur, menabrak dan mungkin saja terjatuh dalam kubangan kesalahan yang sama seperti pemilu-pemilu sebelumnya.

Entahlah.....

Jumat, 27 Juni 2014

Ramadhan tahun ini, tanpa bapak....

Ramadhan tahun ini adalah ramadhan pertama tanpa bapak. Jadi ingin menulis tentang bapak. Betapa banyak pelajaran darinya.

Bapak adalah seorang ideolog, warga muhammadiyah biasa namun sangat teguh memegang prinsip organisasi. Bahkan berhenti merokoknya pun karena fatwa haram rokok dari Muhammadiyah.

Bapak adalah lelaki cerdas, berfikir taktis, praktis, namun juga siap saja jika harus ber-strategis. Seorang pendidik yang meletakkan nalar dan logika dasar sebagai pilar belajar. Belajar bersamanya, kami jadi mudah memahami epistimologi. Spirit dari belajar. Mampu membuat aku merasakan demikian indahnya belajar. Belajar itu (saat itu) seperti berdiri di puncak gunung, dengan pemandangan yang indah, tatapan luas, dan udara segar. Teramat menyukai belajar hingga nyaris tak pedulikan nilai ujian. Yang penting belajar. Bapaklah yang mengajarkan untuk tetap mendengarkan pelajaran dari depan kelas, walaupun diusir guru keluar kelas. Atau menikmati saja saat dihukum berdiri di depan kelas, yang penting tetap ikut belajar. Bapak marah besar saat seorang kakak disuruh pulang hanya karena lupa membawa dasi. "Apakah karena dasi kita harus kehilangan kesempatan untuk belajar?"

Bapak adalah seorang rekan diskusi yang asyik, bisa berbincang dengan kami hingga ganti hari. Sangat egaliter dalam berbincang. Bahkan kami pernah berbeda pendapat, sampai aku harus membanting gelas. Belajar darinya kami jadi mengerti betul tabiat diskusi yang efektif untuk menangkap makna dan pemahaman.

Bapak juga seorang sahabat yang hangat saat dekat dan selalu paham apa yg tersirat. Seperti saat aku demikian suka bermain panah, lalu membuat panah dari bambu, suatu hari aku kehilangan panahku, bapak hanya tersenyum sambil menunjuk panah besar dan kokoh yang dipajang rapih di dinding rumah. Dengan tali busur yang indah dan terikat rapi. Dia membuatkannya untukku. Aku sangat bahagia. Bapak juga yang rela melobangi lantai rumah untuk membuat lubang golf, dan membuat stick golf dengan patahan kaki kursi. Kami merasa diistimewakan.

Bapak adalah seorang yang berhati hati saat ada hak orang lain masuk ke kantongnya, namun sebaliknya sangat mudah merelakan saat ada hak dia yang terampas orang lain. Pernah seperangkat sound system yang kami yakin dia sangat menyukainya, tiba-tiba dia berikan kepada seorang kerabat, hanya karena dia memintanya. Dia memang lelaki baik yang dengan ringan memberikan barang yang disukainya kepada orang yang lebih membutuhkan.

Bapak pernah rela berjalan berkilo-kilo hanya untuk memberikan kelebihan uang kembalian, ia takut menjadi dholim atas hak orang. Padahal saat itu, kami sedang di Jakarta, dan untuk mencari warung tempat kami harus kembalikan uang kembalian itu kami harus bertanya-tanya dan berjalan kaki karena tak dilewati angkutan umum.

Suatu hari saat hari penerimaan raportku, bapak ke sekolah dengan pakaian rapi. Seingatku waktu itu dia kenakan sepatu, hal yang jarang dia lakukan. Di perjalanan, kami temui parit samping jalan meluap, kami turun dari angkot, bapak segera melepas sepatunya, lalu masuk ke parit untuk mengangkat sampah dan batu yang membuat air meluap. Cukup lama. Aku sempat khawatir akan terlambat ke sekolah. Setelah dewasa, baru paham. Ini tentang fiqh Auliyat. Skala prioritas. Dan masyarakat/ummat selalu ditempatkan bapak di posisi yang utama.

Tentang waktu untuk masyarakat, jadi ingat, bahwa bapak adalah pak RT terlama. Entah sudah puluhan tahun menjadi pamong masyarakat. Rumah kami sudah lama nyaris kehiangan aura privacy. Siapa pun akan merasa nyaman keluar masuk rumah ini. Bahkan pernah, saat kami berbincang di ruang tamu, seorang yang entah gila atau pengemis masuk dari pintu depan, lalu bablas ke pintu belakang. Kami hanya berpandangan... "Lho tadi siapa ya?"

Bapak. Bagaimana pun juga, kami pasti rindu. Ramadhan tahun ini kami jalani tanpamu di rumah ini.

Selasa, 17 Juni 2014

Balada Wo dan Wi,

Setelah menonton serius debat itu, ternyata memang tak ada benturan, apalagi percikan.
Benturan tidak terjadi karena keduanya memang beda pandang.
Mungkin Wo seperti bunyinya mewakili cara pandang yang lebih luas. MakrO. Sedang Wi itu taktis dan teknis. MIkro.
Wo itu zoom out, Wi itu zoom in. Dengan Wo kita dapat melihat berapa tanah pertanian yang belum tergarap. Dengan Wi kita bicara kartu.
Dengan Wo sang pelatih mengukur lemah kuatnya lawan lalu tetapkan strategi, dengan Wi asisten pelatih pastikan cidera pemain tak mengganggu.
Wo dan Wi semestinya tak perlu kita adu, karena mereka bisa saling isi. Wo strategis Wi itu teknis.
Dengan Wo kita bicara mau kemana, dengan Wi kita bicara bagaimana kita ke sana. Wo butuh Wi, demikian juga Wi tanpa Wo pasti kesasar.
Wo itu pemimpin, gaya kepala keluarga, orientasi pada pendapatan. Wi itu operator, gaya ibu rumah tangga fokus pada teknis.

Kamis, 12 Juni 2014

#filosenja //catatan di perjalanan pulang kantor

Menunggu APTB, saat tepat berbagi isi hati. Yang terfikir saat ini adalah tentang fitrah air yang bergerak menghindar saat hendak bertubrukan dengan material lain. Seperti kita mungkin juga lebih bijak menghindar daripada membentur. Lebih hemat energi. Selain itu, memilih menghindar itu lebih aman dari godaan kesombongan. Karena bisa jadi keberanian untuk membentur itu buah dari benih kesombongan dalam hati kita. Menghindar memang miskin pujian, dibanding dengan keberanian untuk membentur, namun ini lebih sedikit memakan korban. Bahkan terkadang memilih menghindar bisa memicu cemooh. Tapi itu memang risiko, yang mungkin lebih baik dibanding dengan jumlah mereka yang terluka sebab oleh benturan.

Kesombongan itu bahaya yang dapat menggerus hati. Dengan kemasan percaya diri abaikan unsur kehati-hatian. Analisa SWOT bisa untuk menghindarinya. Bongkar diri, ukur kapasitas kita, seberapa tangguh hadapi tekanan, lalu mulailah membangun sistem pengendalian diri. Dengan rajin menilai secara objektif kapasitas diri, selain kita dapat membangun sistem pengendalian yg rapi, juga dapat tetap terjaga dari benih kesombongan.

Entahlah.....

Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...