Senin, 28 Desember 2015

Demikian pentingnya kata

Dan kata memang memiliki energi tersendiri. Betapa tidak, dengan dua kalimat Syahadat dibacakan maka seseorang akan resmi masuk dalam Islam. Demikian juga kalimat ijab qobul itulah yang menyatukan sepasang suami istri, dan dengan kata talak yang terucap itu kelak pun bisa memisahkan keduanya. Demikianlah kata yang terucapkan itu mengambil peran penting dalam hidup kita.

Demikian juga atas kata yang kita dengar, seperti dalam Surat Al Anfaal ayat 2 yang menjelaskan tentang ciri ciri orang beriman adalah saat disebutkan Nama Allah maka akan bergetar hati mereka, dan saat dibacakan ayat ayat Nya maka akan bertambah keimanan mereka.

Sehingga sajian yang dihidangkan dalam setiap awal pertemuan adalah Taujih robbani, dengan dibacakan ayat ayat Nya. Itu sudah sangat mereka nikmati. Karena lantunan ayat ayat tersebut menjadi energi. Menenangkan hati juga menjadi inspirasi untuk aktifitas kebaikan.

Bersyukurlah kita sebagai manusia, dikaruniai kemampuan berkata kata. Menjadi "khayawanun naatiquun" hewan yang berlogika. Mensyukurinya dengan memanfaatkan secara benar kata kata yang terlintas dalam hati dan pikiran, terucap dalam lisan, tertulis dalam tulisan, atau pun sekedar terdengar dalam telinga kita.

Alhamdulillah.    

Poetoe.
29/12/2015.    

Dini hari untuk diri

Kupikir dini hari memang dapat selamatkanku, karena saat itu adalah saat diri mudah untuk kembali mengendap. Sehingga larutan jiwa menjadi kembali jernih. Semua terbaca dengan lebih mudah.

Walau nanti saat siang dan kehidupan nyata kembali penuhi rongga kepala, terkadang larutan itu kembali teraduk. Memang menjadi kaya akan rasa. Karena semua bisa tercampur dan larut. Berputaran terkecap semua.

Namun melelahkan. Lalu yang terharap lagi adalah datangnya dini hari. Waktu untuk sendiri. Bersepi dalam sunyi. Endapkan semuanya.

#dinihariuntukdiri

Isyarat

Apakah isyarat itu? Serupa tanda atas pesan yang ingin tersampaikan. Atau mungkin simbol atas keterhubungan.

Mungkin isyarat adalah cara paling santun dalam bertutur. Bahkan seolah tak lagi ada kebutuhan akan tersampaikan atau tidak. Sekedar melepas tanda tanpa peduli terbaca atau tidak maksud dan maknanya.

Seperti klakson pelan itu, dibunyikan saja, saat melewati rumahnya. Mungkin akan terdengar dari dalam rumah, mungkin saja tidak, lalu apa maknanya. Entah. Mungkin memang sekedar bukti bahwa keduanya terhubung. Seperti canda dalam istilah René Descartes yang menyebut "Cogito ergo sum" bahwa saya berpikir maka saya ada, mungkin ini "Conecto ergo sum" dengan makna yang dipaksakan, saya terhubung maka saya ada.

Demikianlah, keterhubungan adalah keniscayaan.  Entah hubungan macam apa. Karena katanya ada hubungan yang tak terdefinisi, hanya terasa saat saling berinteraksi.

Padamu padaku, atau dalamku dalammu.

Demikianlah.

Minggu, 27 Desember 2015

Baik vs Buruk ( 2 )

Aku menemukannya. Pola itu. Bagan yang terlihat sederhana, namun dapat membuat kedut otakku menemukan iramanya. 

Adalah tentang manusia yang ada di antara dua bagian: kebaikan dan keburukan. Pada sisi kebaikan inilah yang telah terjelaskan pada tulisan sebelumnya,  secara mikro adalah prilaku kebaikan, secara makro adalah pola bagaimana kebaikan itu dapat berkesinambungan dalam kehidupan kita.

Bagaimana kita membangun pola itu? Kita butuh hikmah. Hikmah adalah ilmu dan pemahaman atas kebenaran. Dan dalam menangkap pemahaman itu kita butuh banyak cara pandang, ibarat untuk memegang satu benda kita butuh banyak jemari. Cara pandang yang terbatas membuat kita hanya mampu mencukil cukil kebenaran tanpa pernah dapat menggenggamnya.

Selain menggenggam ada cara lain yaitu melilitkan benda itu agar dapat kita angkat. Dan melilit itu adalah gerakan memutar, artinya akan lebih jauh perjalanannya, akan lebih melelahkan. Namun hasilnya akan lebih kokoh dalam mendapatkan  pemahaman itu.

Demikianlah hikmah yang kita butuhkan, seringkali terlihat tidak efektif karena menggunakan banyak cara pandang, atau juga bergerak berputar-putar. Seakan-akan membuang waktu, seperti dengan membaca buku-buku yang ditulis oleh seorang yang mungkin tidak sedang berpihak pada kita. Selama niat awal membacanya tetap dalam semangat membangun pola kebaikan itu, maka cara ini justru dapat membuat kita lebih lentur, lebih cair, lebih bijak dalam memandang dan bersikap.

Wallohua'lam .

Dini hari, 28 Desember 2015. 

Baik vs Buruk ( 1 )

Hidup memang tentang pertarungan kebaikan melawan keburukan. Di pihak manakah kita?

Secara mikro, ini tentang berapa kebaikan yang telah kita lakukan. Seperti yang telah Nabi contohkan dan ajarkan, tentang saling  mendoakan keselamatan dan keberkahan saat salam ditebarkan,  tentang memberi makan orang miskin dan berlemah lembut terhadap anak yatim, bahkan ancaman atas keduanya bisa membawa kita pada mendustakan agama, juga tentang menjenguk orang sakit, mengurusi jenazah, bersegera memaafkan, saling berbagi hadiah, tidak mencela,  tidak memotong pembicaraan, dan banyak lagi. Pada intinya adalah prilaku kebaikan. Dan Rosulullah SAW dulu rajin mengevaluasi diri dan sahabat nya seberapa banyak kebaikan yang telah dilakukan  di setiap harinya. 

Sedangkan secara makro, kebaikan itu tidak sekedar dilakukan  melainkan diperjuangkan kebersinambungannya.  Pembinaan,  pembiasaan,  dan membangun pola perikehidupan yang mendukung kebaikan itu lestari. Seperti yang dahulu Rosulullah SAW bersama sahabat-sahabatnya membangun kota Madinah sebagai kota modern dan berperadaban, negeri yang madani. 

Dan atas kebaikan yang kita lakukan itu, akan membawa kita pada kebahagiaan, ketenangan, kehidupan tanpa kesedihan. Seberat apapun, sepedih apapun, terus lakukan kebaikan adalah energi untuk tetap bahagia.

Wallohua'lam bish showab.  

Jumat, 18 Desember 2015

syukur pagi

Dan di hampir setiap pagi, ada kesadaran bahwa langkah kaki ini sudah cukup jauh. Walau banyak yang tercecer, dan waktu yang tersiakan. Kualitas atas hidup yang tak terpelihara, sehingga hidup terasa kering makna.

Agh... mengapa justru ada keluh di pagi ini? Padahal keluh itu musuh syukur. Dan dalam kitab suci syukur selalu diseberangkan dengan kufur.  Artinya berkeluh kesah akan membawa kita pada kufur nikmat.

Baiklah, ini yang harus aku syukuri.  Ada pagi, ada semangat, ada cinta, ada kehangatan, ada kesehatan , ada langit cerah, juga ada kamu.

Beranjak dari apa yang aku syukuri ini, aku ingin kumpulkan energi sambut hari ini.

Semoga selalu menjadi lebih baik. Aamiin.

Poetoe 18/12/2015  

berharap solusi dari Yang Maha Pemberi Solusi

Dunia itu sekolah. Karena bahkan nongkrong di warung kopi itu adalah kelas. Seperti pagi ini, mendapat pelajaran indah dari seorang teman. Bahwa suksesnya kita di dunia ini bergantung pada seberapa hubungan baik kita kepada Tuhan kita. Semakin intim,  semakin lebar terbuka pintu solusi atas semua masalah.

"Alloh Shomad",  Dialah tempat bergantung. Saat terpukau kita oleh Cahaya Nya,  maka tak akan ada lagi kegelapan. Kesulitan seberat apa pun akan ringan saat Maha Pemberi Solusi itu berkehendak.

Saat dengan keyakinan kita bisikkan kebesaranNya, maka dunia menjadi remah remah sederhana saja.

Aku berlindung kepadaNya dari segala godaan Syetan yang terkutuk. Aku mohon jalan keluar atas segala masalah yang menghadang di depan mata.

Aamiin.

17 Desember 2015. 

Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...