Ada satu tempat yang paling berpengaruh dalam membentuk pribadiku. Karena selama 6 tahun aku digodok di kawah "Candradimuka"-nya... tempat itu adalah Ponpes Al-Iman di Muntilan.
Diawali dari keputusan Bapak untuk memindahkan aku dari SMPN Blabak (salah satu SMPN favorit di Muntilan, saat itu aku naik kelas Dua) ke Ponpes Al-Iman; dengan alasan pelajari dulu ilmu Alloh, karena Alloh Penggenggam seluruh Ilmu di muka bumi ini. Tentu ini sedikit menyakitkan, terasa berat dalam dada, tinggalkan kemewahan gelar sekolah yang dihormati di Muntilan ke sekolah yang statusnya (semata) "diridhoi" hehehe.... Dan yang lebih membebani aku adalah, bahwa bahasa arab, sebagai ilmu "alat" untuk bisa manjadi santri di Ponpes belum aku mengerti, sementara waktu itu, aku langsung bergabung ke kelas Dua. Karena jangankan paham bahasa arab, membacanya pun aku masih sangat kesulitan. Ingat betul, di hari-hari pertama belajar di Al-Iman... saat mencatat pelajaran yang ditulis dalam huruf arab dari papan tulis aku seperti sedang mem"batik", hingga dapat dipastikan aku menjadi siswa terakhir yang menyelesaikan catatannya. Apalagi ketika ustadz/ah menjelaskan dalam bahasa arab, hehehe, aku cuman bengong... terasa ada dalam planet lain. Namun di kemudian hari, ini justru menjadi sarana motivasiku untuk tetap belajar di sini. "Darah Muda"ku (hehehe.. minjem istilahnya bang Roma) tertantang, aku bertekad mengejar segala ketertinggalanku. Dan jadilah tahun pertama-ku adalah tahun akslerasi-ku. Setiap hari harus bertemu ust. Thohir untuk belajar Al-Qur'an, dan ust. Irfa'i untuk belajar bahasa Arab; belum lagi setiap di kelas Dua "kosong" aku pindah numpang belajar lagi di kelas Satu. Nafsu belajarku justru berkembang biak di sini.
Di Al-Iman, aku mendapatkan banyak hal. Tentang tradisi-tradisi "kirom" terhadap "asatidz", tentang kemampuan berkomunikasi (dengan acara Muhadhoroh/Lomba Pidato yang dilakukan selepas Isya')
Belajar mengelola emosi, berkenalan dengan cinta, ber-theater, ber-musik, karawitan, dan banyak lagi... itu adalah hal-hal yang aku dapat di Ponpes Al-Iman di Muntilan... apa lagi ya?? (BERSAMBUNG; MOHON MASUKAN)
karena kata adalah awal dunia; butuh ruang untuk memelihara "kata" sejak ada di "pikiran", "lisan", bahkan "tulisan".
Kamis, 25 Februari 2010
Minggu, 21 Februari 2010
mencari tahu "apa itu Sakit Hati"
Sebenarnya dari mana datangnya sakit hati? dari kata-kata pedas orang lain atau justru dari hati kita yang kelewat tinggi melihat diri?
Mungkin bukan sekedar kata-kata pedas, melainkan perlakuan buruk seseorang kepada kita. Bisa jadi mimik yang penuh cibiran, atau bahkan meludah sesaat setelah saling bertatapan. Atau sekedar diabaikan, itupun cukup membuat hati ini terluka. Tapi kesemua itu adalah hal-hal yang terkait dengan faktor di luar diri kita. Yang sejatinya kita memang tidak punya cukup kewenangan untuk mengubahnya. Jika bicara teritori- wilayah kewenangan kita, maka yang bisa kita ubah adalah sikap hati kita, saat serangan "eksternal" itu datang.
Suatu kata, sikap tidak sedap, cacian atau bahkan makian... tidak bisa membuat kita terluka, jika tidak ada penilaian diri yang berlebihan tentang betapa "mulia"nya diri kita ini. Sehinggga (menurut kita) tidak-lah layak, seorang se-mulia kita ini mendapat kata, sikap tidak sedap, cacian juga makian. Nah, jika ini masalahnya... kita bisa mengubahnya. Karena ini adalah masalah internal diri kita.
Mari kita coba, membedah akar masalah dari sakit hati ini... dengan pisau dingin akal sehat kita.
Pertama; evaluasi ulang, jangan-jangan ada sikap kita (atau mungkin kata-kata kita)yang menjadi pemicu munculnya serangan eksternal itu.
Kedua; jangan-jangan, bukan salah anggapan mereka... namun justru masalah ada di anggapan kita terhadap diri kita. Kita keterlaluan dalam memandang hebat diri kita. Cobalah terus merendah, pastikan kita tidak sekedar jongkok melainkan tiarap... biarkan saja ekspektasi orang lain terhadap kita begitu rendah; itu tidak masalah, karena justru akan menaikan nilai kita, ketika akhirnya kita buktikan, bahwa kita jauh lebih hebat dari ekspektasi mereka tersebut.
Entahlah, tapi yang jelas... ayuk kita coba.
Mungkin bukan sekedar kata-kata pedas, melainkan perlakuan buruk seseorang kepada kita. Bisa jadi mimik yang penuh cibiran, atau bahkan meludah sesaat setelah saling bertatapan. Atau sekedar diabaikan, itupun cukup membuat hati ini terluka. Tapi kesemua itu adalah hal-hal yang terkait dengan faktor di luar diri kita. Yang sejatinya kita memang tidak punya cukup kewenangan untuk mengubahnya. Jika bicara teritori- wilayah kewenangan kita, maka yang bisa kita ubah adalah sikap hati kita, saat serangan "eksternal" itu datang.
Suatu kata, sikap tidak sedap, cacian atau bahkan makian... tidak bisa membuat kita terluka, jika tidak ada penilaian diri yang berlebihan tentang betapa "mulia"nya diri kita ini. Sehinggga (menurut kita) tidak-lah layak, seorang se-mulia kita ini mendapat kata, sikap tidak sedap, cacian juga makian. Nah, jika ini masalahnya... kita bisa mengubahnya. Karena ini adalah masalah internal diri kita.
Mari kita coba, membedah akar masalah dari sakit hati ini... dengan pisau dingin akal sehat kita.
Pertama; evaluasi ulang, jangan-jangan ada sikap kita (atau mungkin kata-kata kita)yang menjadi pemicu munculnya serangan eksternal itu.
Kedua; jangan-jangan, bukan salah anggapan mereka... namun justru masalah ada di anggapan kita terhadap diri kita. Kita keterlaluan dalam memandang hebat diri kita. Cobalah terus merendah, pastikan kita tidak sekedar jongkok melainkan tiarap... biarkan saja ekspektasi orang lain terhadap kita begitu rendah; itu tidak masalah, karena justru akan menaikan nilai kita, ketika akhirnya kita buktikan, bahwa kita jauh lebih hebat dari ekspektasi mereka tersebut.
Entahlah, tapi yang jelas... ayuk kita coba.
Selasa, 16 Februari 2010
Koneksitas Ukhuwah.
Merasa tidak sendiri adalah energi yang luar biasa; bukti bahwa berjamaah adalah kebutuhan fitrah manusia... dari galaksi hingga proton dan elektron, selalu nyaman ketika terkoneksi satu sama lain; jadi paham mengapa FB begitu digandrungi...
Perumpamaan dalam film AVATAR, menjadi sangat relevan. Bagaimana seluruh penghuni planet Pandora terkoneksi satu sama lain. Rasanya di Bumi pun semestinya begitu, bukan sekedar terkoneksi dalam teknologi informatika, melainkan juga kita dengan alam, dengan lingkungan kita. Satu bencana alam terjadi bisa jadi karena terjadi distorsi pola hubungan kita manusia sebagai "Kholifah" di muka bumi ini denga Bumi sebagai objek (baca Amanah) pengelolaan, kita sering lalai dalam mengelola koneksitas kita dengan lingkungan kita.
Begitu juga dengan demonstrasi yang marak terjadi, seringkali itu disebabkan oleh pola komunikasi antar kepentingan yang "mandeg", diawali dari arogansi di masing-masing pihak, hingga melenakan bahwa ada kepentingan lain yang harus diperhatikan.
Rasanya Alloh telah menyediakan piranti yang canggih untuk menjalin koneksitas ini, yakni dengan "ukhuwah al Islamiyah". Satu rangkaian yang dibangun dari saling kenal (ta'aruf), saling menyatukan hati (ta'liful qulub), saling memikul beban (takaful), juga saling membantu (tanashur)....
Jaringan Ukhuwah ini, dijaga dengan saling berinteraksi dalam pergaulan hidup sehari-hari, dalam sholat berjamaah, dalam bertukar sapa, salam, senyum.... Bahkan dalam saling mendo'akan.
Semoga Alloh selalu mengikat hati kita dalam Cintanya, dalam ketaatan kepada-Nya, dalam membela Syari'at-Nya, Amien...
Jumat, 29 Januari 2010
senja yang basah...
Senja,
aroma tanah basah,
dan diamnya alam mengajarkan berkata-kata dalam hening.
Mulai terbiasa menikmati tatap mata tanpa kata,
senyum tanpa suara,
bahkan cinta yang tersimpan menjadi embun saja di ujung daun;
aroma tanah basah,
dan diamnya alam mengajarkan berkata-kata dalam hening.
Mulai terbiasa menikmati tatap mata tanpa kata,
senyum tanpa suara,
bahkan cinta yang tersimpan menjadi embun saja di ujung daun;
ditarik oleh mesin waktu...

Hampir tiap hari ini yang terjadi, aku terjebak di balik meja kerja. Dengan monitor komputer yang terus melototiku, dan berkas menumpuk menggodaku dan seakan-akan memanggil-manggil namaku, berharap selalu mendapatkan perhatianku. Tapi pagi ini, entah kenapa, aku kehilangan selera untuk lakukan apa-apa. Sesekali melirik ke HP, yang masih on line membuka situs facebook. Rencananya mau ubah status, mau menuliskan situasi pagi ini, tapi saat membuka beranda, muncul banyak nama; yang anehnya, mereka seolah mesin waktu yang menarik-ku jauh ke belakang. Berawal dari nama, muncul beberapa peristiwa lama. Begitu banyak perubahan, begitu banyak kejadian yang terlewati, tanpa aku tahu detail ceritanya. Ada teman lama yang kini menjadi ustadz, padahal dulu begitu beringasan; ada teman yang dulu begitu pemalu, sekarang menjadi anak band; bahkan ada yang mengubah keyakinan agamanya. Bagaimana mereka bisa berubah? Ada peristiwa apa yang membuat mereka mengubah jalan hidupnya? Entahlah.
Mungkin aku yang keterlaluan menyikapi keingintahuan itu. Tapi kadang memang begitulah, otak bergerak semaunya….
Otak ini mengajakku berkelana kembali ke masa yang telah terlewati. Kadang lebih nekat lagi, dia lanjutkan cerita-cerita lama itu dengan khayalan tentang masa depan yang beranjak dari masa lalu, dengan sedikit mengubah beberapa adegan, dan rasanya itu memang tidak mungkin terjadi. Huh!
Kamis, 21 Januari 2010
TERLAHIR DI RAHIM WAKTU; kesepakatan antara kemarin, hari ini dan hari esok.

Pernahkah kita bertanya, mengapa ada “kemarin”? Mungkinkah “kemarin” itu lahir karena ada “hari ini” ? Ataukah sebaliknya “hari ini” itu ada karena ada “kemarin”? Lalu bagaimana dengan “esok”? Entahlah… yang jelas semua ini terkait dengan waktu, juga ingatan kita, ditambah pula mimpi dan rencana kita.
Waktu adalah tempat dimana “kemarin”, “hari ini”, dan “esok” tinggal. Ingatan adalah yang membuat “kemarin” itu tetap ada dalam alam kesadaran kita, sedangkan mimpi adalah rahim yang melahirkan kata “esok” dalam batok kepala kita. Bagaimana dengan “hari ini”? ia lebih mudah didefinisikan, karena ia memang mengada di dalam kenyataan kita. Selama dimensi kesadaran itu berada dalam kenyataan, maka sesungguhnya kita sedang berada dalam “hari ini”.
Bagaimana dengan “kesan” yang kadang kita beri nama dengan kata “kenangan”? Kenangan itu lahir tentu di hari lalu (kemarin), dan diselamatkan oleh ingatan kita, dari cengkeraman monster lupa. Kadang ingatan itu terpicu oleh tanda-tanda yang sengaja kita ciptakan. Entah itu berupa kata yang kita catatkan dalam buku harian, atau benda-benda yang kita nisbatkan sebagai lambang dari sebuah kejadian… atau hanya warna, yang kita sepakati sebagai perwakilan dari seluruh kesan atas kejadian-kejadian dalam satu waktu. Bahkan nama, kadang sangat berarti mewakili segenap isi hari-hari yang kita anggap penuh kenangan. Atau foto, sebuah perlambang kesombongan kita, untuk mencuri satu momen dalam hidup kita.
Yang menarik adalah, seringkali beranjak dari kenangan itu-lah, kita berandai-andai tentang hari esok. Di saat itu, terhubung ketiga-nya dalam satu tema pembahasan di isi kepala kita. Di sekarang, kita berbincang tentang masa lalu, untuk rencanakan masa depan di hari esok. Dan itu tidak lah mudah, begitu banyak nama, wajah, senyuman, tangisan, kehangatan, kebencian, kejadian-kejadian, benturan, rasa sakit, rasa bahagia, berbaur bersama…diolah oleh akal sehat, dipaksa untuk terhubung dengan alasan-alasan yang masuk akal, ataupun rencana-rencana yang terukur… untuk kemudian menghasilkan mimpi, rencana untuk hari esok. Kadang yang lahir justru ngilu, ketika hasil dari mesin produksi itu (dengan bahan baku: kenangan, diolah di hari ini, dan hasil produksinya adalah mimpi dan rencana di hari esok) tidak seperti yang kita harapkan. Bisa jadi luka itu adalah karena kenangan yang sudah terlanjur tertanam terlalu dalam, sementara hari ini dan esok sudah sepakat untuk menghapus kenangan-kenangan itu, kebayang kan… betapa perihnya ketika kenangan itu harus dicongkel keluar. Ngilu, saat tercabut akar kenangan itu… darah mengucur, tersayat rongga jiwa. Kesalahan dalam mencongkelnya bisa membuat hati tergelepar, meregang nyawa. Hiks!
Kita berharap tidak ada luka. Kenangan seberapa indah atau seberapa buruknya mestilah kita kelola dengan bijak. Agar terhubung di hari ini dengan hari esok, menjadi rencana-rencana yang rapih. Jelas, terukur, dan indah untuk kita kenang di hari esoknya lagi… Semoga.
Rabu, 06 Januari 2010
Pidato Malam di tengah Jalan Tol;
Malam;
lampu jalanan,
rambu lalu lintas,
dan gemuruh roda bersahutan
di bawah kaki kita;
ada kenangan yang coba kita congkel keluar,
ada harapan yang coba kita pungut satu persatu;
ada keheningan yang coba kita ganggu;
ada cinta yang kita rampas haknya,
dengan dalih harga diri,
dengan dalih martabat;
ada lampu mobil yang berseliweran di sekitar kita;
ada klakson yang menjerit di tepat belakang kita;
ada pesona yang lalu-lalang,
serupa penari meliuk-liuk laksana asap obat nyamuk;
ada getaran-getaran yang dipaksa untuk kita rasakan;
ada kepedihan yang nyelonong masuk,
mencubit nurani hati;
ada kebodohan yang tiba-tiba saja
terbangun begitu kokoh di pangkal otak kita,
karena kebenaran dengan semena-mena dikerdilkan
oleh kata-kata yang jujur sebenarnya tidak bermakna;
juga makna itu sendiri saling bertabrakan
membawa kepentingannya masing-masing;
makna menguasai kata ,
atau kata mengusai makna;
Pening aku!!
kebenaran dengan syak wasangka menjadi kabur
karena praduga seolah kabut begitu tebal
menutupi lukisan al-Haq;
kata-kata diboncengi,
kata-kata ditunggangi....
mestinya dahulu siapa...
mestinya dahulu mana...
performa atau kapasitas diri...
katanya performa itu cerminan dari kapasitas
namun kadang rancu kapasitas dibangun dari performa yang dipaksakan;
Aneh memang,
ketika rasa keadilan dikerdilkan oleh kepastian hukum;
ketika kepastian hukum itu sendiri menginjak-injak substansi keadilan;
lalu dahulu mana, telor atau ayam?
keheningan menjadi begitu nikmat,
ketika kata-kata justru mengkebiri kecerdasan nurani kita;
berita dengan gosip murahan nyaris serupa
lalu mau berpijak pada apa....??
berharap tabir dan tirai itu terangkat,
tapi kapan?
lambat laun, kita yang jadi agen-agen kemunafikan itu sendiri.
memang hening adalah surga,
memang senyap adalah taman indah, tempat untuk bersandar,
ketika kebohongan merimba dalam hidup kita;
berharap satu waktu,
saat hati dan diri mampu bercakap-cakap....
tanpa diganggu oleh fakta yang rancu,
dengan persepsi;
masak kenyataan lenyap yang tersisa tinggal anggapan!
masak opini dengan berita itu sendiri bercampur aduk!
jadi tolol kita
jadi bebal kita
jadi buta
meraba-raba
kehilangan kendali hati
tanpa pedoman
tanpa peta;
nyasarlah kita!!!
tersesat...dalam rimba kata-kata,
kalimat-kalimat itu mencekik nurani.
lampu jalanan,
rambu lalu lintas,
dan gemuruh roda bersahutan
di bawah kaki kita;
ada kenangan yang coba kita congkel keluar,
ada harapan yang coba kita pungut satu persatu;
ada keheningan yang coba kita ganggu;
ada cinta yang kita rampas haknya,
dengan dalih harga diri,
dengan dalih martabat;
ada lampu mobil yang berseliweran di sekitar kita;
ada klakson yang menjerit di tepat belakang kita;
ada pesona yang lalu-lalang,
serupa penari meliuk-liuk laksana asap obat nyamuk;
ada getaran-getaran yang dipaksa untuk kita rasakan;
ada kepedihan yang nyelonong masuk,
mencubit nurani hati;
ada kebodohan yang tiba-tiba saja
terbangun begitu kokoh di pangkal otak kita,
karena kebenaran dengan semena-mena dikerdilkan
oleh kata-kata yang jujur sebenarnya tidak bermakna;
juga makna itu sendiri saling bertabrakan
membawa kepentingannya masing-masing;
makna menguasai kata ,
atau kata mengusai makna;
Pening aku!!
kebenaran dengan syak wasangka menjadi kabur
karena praduga seolah kabut begitu tebal
menutupi lukisan al-Haq;
kata-kata diboncengi,
kata-kata ditunggangi....
mestinya dahulu siapa...
mestinya dahulu mana...
performa atau kapasitas diri...
katanya performa itu cerminan dari kapasitas
namun kadang rancu kapasitas dibangun dari performa yang dipaksakan;
Aneh memang,
ketika rasa keadilan dikerdilkan oleh kepastian hukum;
ketika kepastian hukum itu sendiri menginjak-injak substansi keadilan;
lalu dahulu mana, telor atau ayam?
keheningan menjadi begitu nikmat,
ketika kata-kata justru mengkebiri kecerdasan nurani kita;
berita dengan gosip murahan nyaris serupa
lalu mau berpijak pada apa....??
berharap tabir dan tirai itu terangkat,
tapi kapan?
lambat laun, kita yang jadi agen-agen kemunafikan itu sendiri.
memang hening adalah surga,
memang senyap adalah taman indah, tempat untuk bersandar,
ketika kebohongan merimba dalam hidup kita;
berharap satu waktu,
saat hati dan diri mampu bercakap-cakap....
tanpa diganggu oleh fakta yang rancu,
dengan persepsi;
masak kenyataan lenyap yang tersisa tinggal anggapan!
masak opini dengan berita itu sendiri bercampur aduk!
jadi tolol kita
jadi bebal kita
jadi buta
meraba-raba
kehilangan kendali hati
tanpa pedoman
tanpa peta;
nyasarlah kita!!!
tersesat...dalam rimba kata-kata,
kalimat-kalimat itu mencekik nurani.
Langganan:
Postingan (Atom)
Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...
-
Mereka, para Shahabat Rosulillah itu membaca "Ayat-ayat Allah" dan juga sabda Rosulullah SAW, tidak sekedar sebagai "pesan...
-
"Jika benar kau pemerhati hal-hal sederhana, maka apa yang paling tercatat di mula pertemuan kita dulu?" Mungkin jawabannya adalah...
-
Buku MADILOG, Materialisme, Dialektika dan Logika adalah buku karya Tan Malaka yang kaya. Berisi banyak pengetahuan. Tak kebayang buku ini...