Senin, 17 Agustus 2015

Masih pantaskah bahagia.

Kesalahan itu racun, dan penawarnya adalah permohonan maaf.
Demikian  juga dosa, disembuhkan olah permohonan ampunan-Nya.
Namun tak akan benar-benar sembuh tanpa sanksi atas kesalahan itu.
Sanksi tak sekedar menyembuhkan namun dapat pula memulihkan.
Sanksi atau hukuman itu minimal adalah rasa bersalah.
Rasa yang menyiksa adalah sanksi yang bisa menawarkan racun, menyembuhkan sakit dan memulihkan luka.
Pantaslah jika orang-orang saleh terdahulu lebih banyak menangis dari pada tertawa. Mereka memelihara rasa bersalah itu sebagai energi perbaikan.

Bagaimana rasa bersalah itu dipelihara? Mungkin dengan ingatan atas sanksi yang semestinya diberlakukan... karena Dia maha pengampun sehingga banyak aib dan kesalahan  kita yang terlipat rapi. Tersembunyikan. Seandainya diungkap semua dosa tentu buruk sekali wajah kita. Penuh aib dan dosa. Jika pun sanksi atas dosa kita diberlakukan mungkin kita tak sanggup lanjutkan hidup.

Karenanya saat aib tersimpan dan sanksi atas dosa terampuni, maka kita harus bersyukur. Bersyukur dengan tetap menyimpan rasa bersalah itu hingga tak lagi pongah untuk sesumbar dan berlagak bahwa dosa begitu mudah kita abaikan.

Dengan segala dosa dan aib ini... maka masih pantaskah kita bahagia?

Jika kita pandang bahagia adalah asasi, maka tentu tentu jawaban kita saat ditanya masih berhak kah kita bahagia? Adalah masih berhak.

Namun saat pertanyaannya masih pantaskah kita bahagia dengan segala dosa dan aib ini?

Mungkin kita terdiam. Dan menjawabnya dengan air mata. Hanya air mata.

Poetoe/ 14 Agustus 2015
(Jelang 40 tahunku)

Dilema ibu bekerja

Pagi ini, mendapat inspirasi dari kisah seorang teman. Fragmen saat ia hendak selesaikan cuti bersalin anak kelimanya, dan harus berangkat kerja esok harinya. Anak pertamanya datang menghampirinya. Lalu mohon ijin padanya, "Bunda, boleh ndak aku mau nangis...?" Bundanya kaget, "lho ada apa??"
Lalu sang anak mulai menangis, tanpa rengekan, hanya air mata.
"Kenapa kak? Cerita dong... kalau gini bunda jadi sedih... ada masalah di sekolah? Temanmu nakal? Kenapa nangis, kak?"
Sang anak hanya menggeleng. Lalu menjawab perlahan ".... bunda besok mulai kerja lagi."
Jawaban itu membuat sang Bunda ikut menangis.

Kisah romansa ibu yang harus bekerja. Aku kebingungan hendak cerita apa. Kisah ini sudah membuatku berpikir banyak. Tak semua yang aku pikirkan hari ini terjawab, namun paling tidak ada air mata. Saat mendengar cerita ini dari sang ibu, juga saat aku harus menuliskannya lagi siang ini. Air mata.

Air mata untuk keresahan, saat tata nilai dibentur benturkan. Air mata untuk banyak pertanyaan yang tak berjawab. Entahlah. Kita memang butuh Dia untuk mengambil keputusan. Semoga selalu tercurah rahmah dan hidayah-Nya.

Aamiin.

Poetoe / 14 Agustus 2015.

Senin, 10 Agustus 2015

Tentang menulis ide baik.

Tradisi para pemikir adalah kopi dan rokok, demikian kata Almarhum Bapak dulu. Aku tak merokok kerenanya kopi yang kupilih. Namun bersama berjalannya waktu, terlalu banyak kopi menimbulkan masalah pada pola tidurku. Aku coba beralih pada coklat panas. Secara teori coklat melahirkan mood yang bagus. Dan ternyata ada benarnya.

Aku coba manfaatkan kenyamanan setelah nikmati coklat panas dengan mengisi waktu untuk menulis. Harapannya agar tulisanku bernuansa positif. Bukan tulisan keluhan dan amarah. Aku takut tulisan yang negatif hanya membuat aura negatif itu menyebar pada para pembacanya. Itu pun jika memang ada yang membaca tulisanku. Hehe...

Ide positif butuh dilahirkan. Dalam kondisi hati yang tenang, ia terlahir dari rahim otak kita. Melalui kata-kata yang awalnya hanya terpikirkan, lalu terucap baik melalui lisan atau pun tulisan. Harapannya tentu sebagian dari ide-ide positif itu terlahir dalam kegiatan nyata. Hingga kebaikan menyebar ke sekitar kita. Aamiin

Berharap ini menjadi niatan baik yang melatarbelakangi hoby menulis kita. Sehingga tak sia-sia, kegiatan rutin ini. Jika mungkin, satu pekan ada satu ide baik dituliskan.

Semoga.

Poetoe / 10 Agustus 2015.

Sabtu, 08 Agustus 2015

Tentang kesepian

Seorang mengatakan aku kesepian. Awalnya tentu aku menyangkal, bagaimana kesepian jika aktifitasku banyak, komunitasku beragam. Namun perlahan ada kesadaran, bisa jadi dia benar. Mungkin aku memang kesepian.

Sepi itu merasa sendiri. Merasa sendiri itu bisa jadi tak benar benar sendiri.  Hanya merasa. Mungkin saja justru karena kebutuhan  untuk bersama yang teramat sangat membuat kita cepat merasa sendiri. Entahlah.

Aku coba membongkar sebab sepiku. Mungkin keliru, ini sekedar pencarian. Bisa jadi tersesat. Awalnya karena merasa beda. Sejak kecil dilatih untuk berbeda, gondrong di saat SD. Enam tahun menjadi berbeda di kalangan teman-teman. Guru tak ada yang berani tegakkan aturan rambut panjang untuk murid laki-laki, karena Bapak rasanya sudah ijin ke kepala sekolah, ia akan pakai gaya berbeda untuk anak-anaknya. Di SMP kami baru mulai sesuaikan. Walau sempat disetrap harus berdiri di depan kelas di sepanjang jam belajar karena aku tak mau potong rambut. Bapak tak mau memotong rambutku tepatnya. Karena salah satu undang-undang di rumah saat itu adalah satu-satunya yang berhak potong rambut kami adalah Bapak. Banyak hal lain yang membuat kami berbeda. Buku bacaan, permaianan, termasuk jam makan kami.

Entahlah, apakah keberanian bergaya beda ini yang akhirnya membuatku sepi. Karena kenyataannya aku merasa tidak ada seorang pun di sekitarku yang menyerupaiku. Entah. Ini hanya sekedar menebak-nebak sebab.

Kepada seseorang yang mengatakan aku kesepian itu, aku tanyakan alasan apa aku terlihat kesepian? Ia menjawab karena aku seperti tak pernah cukup mencari teman. Hmm... mungkin memang kebutuhanku berkomunikasi melebihi orang-orang kebanyakan. Aku enjoy dalam banyak komunitas. Apakah ini gejala tak sehat? Apakah ini juga menjadi sebab sakit kepalaku?

Sepi terlahir dari merasa sendiri, disebabkan oleh rasa tak pernah cukup berkomunikasi. Mungkin aku harus evaluasi "rasa tak pernah cukup"ku. Entahlah.

Paling tidak, dini hari ini, aku sudah meluangkan waktu berpikir mendalam tentang rasa sepi ini. Semoga menjadi langkah awal perbaikanku. Semoga esok hari selalu lebih baik dari kemarinku.

Terima kasih kepadamu yang menuduhku kesepian. Kau menyadarkanku.

Poetoe / 9 Agustus 2015.

Kesadaran adalah peta

Yang menyelamatkan kita adalah kesadaran kita akan ruang dan waktu. Karena apa yang kita pikirkan adalah alat bantu agar kita tersadar. Dimana dan di waktu apa kita berada saat ini.

Memang rasa yang membuat semua menjadi lebih seru. Bisa lebih indah bisa pula tragis. Rasa memberi warna pada hidup. Bisa bahagia bisa pula kesedihan. Namun rasa lah yang membuat diri terlempar entah kemana. Rasa bisa membuat kita tersesat. Kita butuh peta. Dan peta itu adalah apa yang kita pikirkan.

Ada benarnya Rene Descartes berpendapat Cogito ergo sum, saya berpikir maka saya ada. Berpikir sepanjang waktu, adalah belajar tanpa henti. Mengumpulkan kesadaran atas kebenaran objektif.

Kesadaran kita adalah pemahaman kita atas "ruang dan waktu". Dimana dan kapan. Seperti jika kita baca maksud dari perintahNya, semua tak jauh dari kebutuhan atas kesadaran "ruang dan waktu".

Lihat saja jadwal sholat kita yang ditentukan dari pergerakan bumi dan matahari, adalah bukti bahwa kesadaran kita atas waktu dibutuhkan dalam ritual rutin kita. Demikian pula arah kiblat sholat kita adalah bukti kesadaran atas ruang. Rasanya setiap perintahNya didasari pada dua kesadaran itu. Ruang dan waktu.

Saat thowaf hal ini akan semakin terasa. Jamaah berihrom mengitari kakbah, dengan doa yang berbeda di setiap sudut kakbah. Dan waktu atas thowaf pun tak boleh lalu melanggar waktu-waktu sholat. Ini bukti kesadaran atas ruang dan waktu adalah dasar utama ibadah kepada-Nya.

 Semoga selalu terjaga kesadaran kita. Aamiin.


Kamis, 06 Agustus 2015

Berpikir lalu menulis. Kuliah di Universitas Kehidupan

Sebuah nasehat, agar selalu agendakan di setiap hari untuk berpikir mendalam tentang sesuatu, lalu tuliskan. Jika dirasa ada yang kurang cari bacaan tambahan dan gunakan saat sarapan atau makan siang bersama teman sebagai sarana diskusi. Dengan cara ini paling tidak kita seperti tak pernah berhenti kuliah. Kuliah di universitas kehidupan.

Setelah menjadi satu tulisan coba posting di media sosial, biarkan orang lain membacanya, adakah umpan balik yang bisa jadi masukan atas tulisan kita?

Jika kita merasa tulisan kita sedemikian kaku, maka bubuhkanlah rasa di dalamnya. Jadi tulisan kita memuat apa yang kita pikirkan pula apa yang kita rasakan.

Sepertinya nasehat ini menarik. Aku mau coba. Bisa jadi tulisan ini pun bagian dari pelaksanaan atas nasehat di atas. Bagaimana menurutmu?

Poetoe / 7 Agustus 2015.

Rumahku Surgaku?

Rumahku surgaku. Surga di dunia ini mestinya ya di rumah. Karenanya saat kita punya masalah dengan pasangan hidup kita maka kita akan kehilangan surga kita. Tak hanya pasangan kita, anak-anak, sanak keluarga juga sangat mempengaruhi surga kita di dunia.

Dalam membangun surga ini, tentulah komunikasi mengambil peran penting. Terlebih saat aktifitas pekerjaan kita menyita waktu kita, mengurangi saat bersama dengan mereka. Harus disiasati, bagaimana interaksi dengan mereka tetap baik dan efektif. Karena sekali ini tentang surga yang sedang kita jaga.

Rumahku surgaku. Tempat di mana rehat jasmani juga ruhani. Tempat canda menjadi energi, tempat menikmati banyak hal sederhana menjadi indah.

Sudahkah benar-benar kau rasakan, bahwa rumahku memang surgaku?

Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...