Rabu, 11 Juni 2014

Sopir vs Mandor

Ada yang bilang, saat macet di tol ikuti saja bis besar. Karena sopirnya punya ruang pandang yang lebih jauh daripada kendaraan kecil. Cara pandang yang jauh ke depan membuat sopir lebih tahu mana jalur yang lebih macet mana yang lebih lancar. Demikianlah pemimpin, visinya harus luas dan jauh ke depan. Sehingga tepat mengukur hambatan di masa depan, juga potensi bangsanya. Pandangan yang lebih luas dan lebih jauh membuat semua jadi lebih terencana, juga lebih optimis jalani program. Tidak picik dan parsial dalam memandang satu masalah.

Pemimpin yang visioner itu mengarahkan yang dipimpinnya ke arah yang sesuai visi. Dia butuh mandor yang mengawasi. Mandor sang manajer pengawasan itulah yang bertugas blusukan, memastikan program sang pemimpin masih berjalan sesuai visi. Memang kita semua pemimpin, sesuai kapasitasnya. Kapasitas mandor tetaplah dibutuhkan di level manajer penyelia. Namun di posisi tertinggi tetaplah ia yang memiliki visi yang jauh dan strategik bukan sekedar mandor pengawas yang teknis dan mikroskopik.

Minggu, 08 Juni 2014

Ruang Dalam dan Luar Ruang.

Pertempuran itu memang di semua lini. Ruang dalam juga luar ruang. Privat juga publik. Semua memang berawal dari dalam. Liang hati. Ikhlas. Niat yg benar. Kesalahan di titik ini akan fatal pada akhirnya. Awalnya benar pun tak lalu akan mulus perjalanannya. Ada goda berupa keserakahan dan nikmat sesaat. Terkadang pintu kecil masalah itu hanya dari keisengan. Kehausan akan kebahagian remeh yang bisa melupakan kebahagian besar. Pada akhirnya nalar yang terjaga, juga hati yang sering tercuci air mata yang dapat menjaga pagar agar tak rubuh. Karena pesona ranjau itu terlalu indah untuk diabaikan, dan gelora ingin tahu terkadang justru membutakan. Saat gelora teramat kuat menampar karang jiwa, maka berpegangan pada sauh sepi bisa jadi solusi. Biarkan sunyi larutkan diri. Biarkan keheningan itu yang membimbing. Menjadi lentera, usir kegusaran dan hasrat untuk bergegas nikmat itu.

Namun memang tak selamanya nalar bisa tetap jadi tempat bersandar. Karena ia karam oleh nafsu dan ambisi. Saat sepi tak mampu lindungi nalar, maka mulailah segera berbincang. Diskusikan saja, analisa SWOT tentang diri. Terbukalah. Karena nalar memang butuh berdialog. Karena menangkap makna seperti menangkap benda, lebih mudah dg banyak jari. Menangkap dg banyak jari itu serupa memahami sesuatu dengan banyak cara pandang. Ini hebatnya tanya jawab.

Jika nalar lebih nyaman dalam bincang, hati yang bersih bisa jadi sedikit beda. Ia butuh lebih banyak dalam ruang yang sepi. Karenanya banyak tokoh bahkan para nabi yang mengawali kenabiannya dengan menepi dalam sepi. Dalam sepi, bercakapan kita lebih pada diri. Perenungan. Seperti proses pengolaan data dalam komputer. Jika perenungan itu pengolahan data, maka informasi yang diolah adalah hasil dari apapun yang tertangkap oleh indra. Seperti input data. Dalam sepi kita bisa bersihkan hati dengan berbanyak air mata. Dari mata air penyesalan, kesadaran, juga cinta. Basahi sepi dengan kening berkerut. Jangan biarkan nalar mati karena iseng yang memimpin. Pastikan terus berpikir. Jika pun ada tawa itu bukan karena kematian akal sehat. Justru sebaliknya tawa yang jadi bukti bahwa nalar masih ada. Begitu juga dengan air mata, adalah sebagai sarana penyucian hati yang tersengaja, bukan air mata lebay dan gairah pencitraan saja.

Entahlah....

Kamis, 05 Juni 2014

#kicau sore

Menunggu APTB. Penuh sesak. Jadi pingin ber#kicausore tentang Gerah.
Gerah itu Gelisah dan resah. Mewakili perasaan ibu-ibu yang resah karena balitanya rewel di tengah himpitan penumpang
Gelisah para penumpang sore ini bisa saja tentang tugas-tugas esok hari. Bayangkan belum juga berhasil pulang sudah tersiksa oleh bayangan hari esok
Seakan hari hanyalah rangkaian gelisah ke gelisah yang lain. Betapa tidak bahagianya. Dan ketenangan menjadi kemewahan.
Mungkin jalan bahagia itu pada kepandaian kita menikmati semua proses itu. Karena hidup memang permainan.
Permainan menjadi menyiksa saat hati dipenuhi obsesi kemenangan. Akan berbeda saat kita fokus pada indahnya permainan.
Mungkin sesekali kita kembali belajar dari anak-anak yang masih jernih melihat kebahagiaan-kebahagiaan yang sederhana itu.

.....

Rabu, 04 Juni 2014

Masih Tentang Pagi

Pagi itu memomPa enerGi, saatnya kumpulkan energi untuk jalani hari ini. Kumpulkan inspirasi pagi yang terserak di setiap peristiwa sekitar kita. Wajah ceria anak berangkat sekolah, juga semangat loper koran saat melempar koran ke rumah pelanggan itu inspirasi. Juga matahari yang tak bosan hangatkan dunia walau kadang harus bertarung dengan mendung adalah juga sumber semangat pagi kita.

Pagi bisa juga Padu dalam sinerGi. Adalah rangkaian energi yang berlompatan dalam birama yang sama. Energi yang tercipta dari gesekan antara semangat satu dengan yang lainnya hingga jadi percikan semangat baru. Bicara tentang Sinergi itu bicara tentang kelenturan yang dibutuhkan untuk kurangi efek kerusakan dari benturan yang tak terhindarkan. Mengapa tak terhindarkan? itu karena masing-masing sudah terbangun karakter yang kuat. Jadi pastilah ada beda yang bisa dibenturkan. Karena itulah kita butuh kelenturan. Kita harus paham seberapa kuat daya lentur kita, karena jika salah menghitungnya bisa fatal. Salah mengukur daya lentur saat hadapi angin bisa berakibat patah bambu jiwa kita...

Pagi itu memomPa enerGi, juga Padu dalam sinerGi, bisa juga sekedar menyaPa laGi. Terkesan sekedar "manyaPa laGi" padahal ini justru spiritualistik. Karena ada kata "laGi" bermakna pengulangan. Dalam pagi kita mengulang sapaan, mengulang kebahagiaan, mengulang semangat. Padahal tak ada yang bisa menjamin bahwa pagi ini bukan pagi terakhir kita. Jadi semestinya di setiap pagi kita bersyukur.

Bersyukur bahwa Dia masih beri kesempatan kita bisa nikmati pagi ini.
Semàngat pagi. 
Semoga jadi energi kebaikan di hari ini.

Minggu, 01 Juni 2014

#Siang

Berlarian siang seperti berlomba,
enggan mendapat gelar pecundang......

Melepas lalu menangkap seperti nada yg dimainkan,
kenikmatannya pada interlude; kadang.

Saat terik pun terkadang gulita pada hilangnya kesadaran,
karena tanggul itu harus segera dialirkan

Bagaimana akan kau beri makna, pada siang yg kerontang ini?
Pertaubatan atau kesadaran akan kelemahan diri?

Seperti ajakan untuk memainkan bisikan sebagai alunan senandung kesedihan,
pada cahaya yg terlalu terang, pada hening yg tiba-tiba.

Entahlah...

Jumat, 30 Mei 2014

nDalang Sore - Lelakon Sengkuni nDalang -

Ketika sengkuni keluar dari layar, lalu rebut kekuasaan dalang...
kepura-puraan pun menjadi arus utama, dan dusta menyemesta
Seperti cinta yang kehilangan pegangan, terseret oleh dengki juga ambisi, tertatih tatih nyaris tersuruk.
bagaimana tidak, jika kata-kata mencercau di semua media. Padahal dusta, padahal jelas pura-puranya, pembaca dan pemirsa ndomblong
mana berita mana cerita tak lagi beda. Blaik! mending menatap langit senja saja. Muak dengan topeng itu....
arus utama sudah mulai kotor, tak lagi jelas ke hilir yang mana. Mungkin memang saatnya beranjak, keluar dari lumpur jijik ini.
Bersama senja, semua menjadi semakin nampak jelas. Bahwa ini polah sengkuni yang menjelma jadi dalang. Terlihat senyum jahat dibalik topeng.

Yang tersisa hanya rapal doa, benamkan mereka saja ya Tuhan dalam lubang gelapmu, agar langit kembali terang

#nDalangSore

Jumat, 16 Mei 2014

Lelakon (yang antiklimaks)

Diawali dari lelakon yang harum tingkah polahnya, membuat terpukau kuli tinta dan media, penggemar menghamba dengan cara nan lebay;
asyik ia menari laksana peri atau bidadari, tebar pesona, lakukan hal-hal yang aneh di kalangan warga dunia yang kotor;
siapa sangka, bila kemudian terlihat ada luka menganga di balik jubah pencitraannya. Luka dari sabetan belati ibunya sendiri;
Luka yang memanjang juga dalam, merobek hingga nurani. Keindahan hati terciderai haus akan kuasa, dan lapar oleh harta, juga puja;
si dia kini memakai topeng "datar". Sembunyikan luka itu. Senyumnya adalah perih, tawanya adalah sumbang, ia hanya petugas saja;
Lihat saja nanti, pada puncaknya ia hanya akan menjadi temanten mendampingi sosok ceria tanpa makna. Sang ratu pura-pura. agh! #lelakon

Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...