Orang2 yang menggelapkan pajak trilyunan rupiah itu, ketakutan karena reformasi birokrasi di DJP tak terbendung, mereka bersembunyi di balik media teriakan boikot pajak... MENJIJIKKAN!!!
Gaya hidup aparat disorot.... sebanding nggak dengan penghasilannya; gaya hidup pengusaha mestinya juga disorot... sebanding nggak dengan utang pajak yang dia kemplang....
ini tentang rencana perubahan sistem dalam rangka membangun sebuah peradaban baru yang terkotori oleh ambisi pribadi... didukung oleh syahwati kekuasaan, dan media yang kelewat "genit", menebarkan opini yang salah arah; dan syetan itu bertepuk tangan di ujung ruangan....
karena kata adalah awal dunia; butuh ruang untuk memelihara "kata" sejak ada di "pikiran", "lisan", bahkan "tulisan".
Jumat, 02 April 2010
Selasa, 23 Maret 2010
tentang Otak kita...
Ada tiga hal dalam mendayagunakan otak kita,
1. Menggunakannya untuk berfikir, mengingat, mempelajari atau memahami sesuatu; ini memang sudah menjadi tugas dasar otak. Setiap kita pasti melakukan hal ini dalam menjalani kehidupan kita.
2. Membangun metodologi berfikir yang tepat, artinya kita tidak sekedar menggunakan otak kita, melainkan juga memikirkan pemeliharaannya. Kita siapkan cara berfikir yang efektif; hal ini menjadi kebutuhan penting kita, karena keterbatasan waktu yang kita miliki juga keterbatasan kemampuan kerja otak kita yang tidak sebanding dengan tugas dan amanah yang kita emban; kita butuh strategi dalam berfikir.
3. Mempunyai niat sebagai motivasi berfikir yang benar; dua hal di atas menjadi tidak berarti, ketika kita tidak memiliki niat atau motivasi yang benar dalam berfikir. Hal ini membutuhkan cara-cara tertentu yang dapat mengingatkan kembali akan niat kita, karena secara fitrah kita memiliki kecenderungan untuk menggeser niat....
Dengan menjalani ketiga hal tersebut di atas, kita bisa melaksanakan salah satu tugas Ilahiy, yaitu "mensyukuri nikmat Otak" atau lebih tepatnya "akal", karena "akal" adalah "otak" dan "hati"; dan "akal" pula-lah yang menjadi pembeda antara kita (manusia) dengan binatang. Wallohu a'lam.
1. Menggunakannya untuk berfikir, mengingat, mempelajari atau memahami sesuatu; ini memang sudah menjadi tugas dasar otak. Setiap kita pasti melakukan hal ini dalam menjalani kehidupan kita.
2. Membangun metodologi berfikir yang tepat, artinya kita tidak sekedar menggunakan otak kita, melainkan juga memikirkan pemeliharaannya. Kita siapkan cara berfikir yang efektif; hal ini menjadi kebutuhan penting kita, karena keterbatasan waktu yang kita miliki juga keterbatasan kemampuan kerja otak kita yang tidak sebanding dengan tugas dan amanah yang kita emban; kita butuh strategi dalam berfikir.
3. Mempunyai niat sebagai motivasi berfikir yang benar; dua hal di atas menjadi tidak berarti, ketika kita tidak memiliki niat atau motivasi yang benar dalam berfikir. Hal ini membutuhkan cara-cara tertentu yang dapat mengingatkan kembali akan niat kita, karena secara fitrah kita memiliki kecenderungan untuk menggeser niat....
Dengan menjalani ketiga hal tersebut di atas, kita bisa melaksanakan salah satu tugas Ilahiy, yaitu "mensyukuri nikmat Otak" atau lebih tepatnya "akal", karena "akal" adalah "otak" dan "hati"; dan "akal" pula-lah yang menjadi pembeda antara kita (manusia) dengan binatang. Wallohu a'lam.
Senin, 22 Maret 2010
benda, mata kita, atau mesin dalam otak kita?
Berbincang bersama istri, dalam perjalanan pulang kantor; saat langit senja memerah indahnya luar biasa. "Dik, sebenarnya indah itu ada di langit atau di mata kita?"
"Ya, di langit lah..."
"tapi tanpa mata, manalah ada keindahan itu?"
"atau... jangan-jangan keindahan itu bukan di langit, bukan pula di mata kita; namun ada di otak kita..."
"bukankah pengertian kata indah itu ada dalam otak kita? gambaran langit senja yang ditangkap oleh retina mata kita, tidaklah akan disebut indah, jika tidak ada pemahaman yang lahir dari pengalaman otak kita akan pengertian kata 'indah'. entahlah"
"Ya, di langit lah..."
"tapi tanpa mata, manalah ada keindahan itu?"
"atau... jangan-jangan keindahan itu bukan di langit, bukan pula di mata kita; namun ada di otak kita..."
"bukankah pengertian kata indah itu ada dalam otak kita? gambaran langit senja yang ditangkap oleh retina mata kita, tidaklah akan disebut indah, jika tidak ada pemahaman yang lahir dari pengalaman otak kita akan pengertian kata 'indah'. entahlah"
Jumat, 12 Maret 2010
melawan Buto Cakil dengan cara sitemik...
" ternyata, banyak Buto Cakil yang petakilan membangun kemarahan yang sistemik; saatnya rapatkan barisan, jalankan titah Gusti Alloh dengan analisa dan rencana yang matang.... selamatkan ummat ini dari keterpurukan peradaban..."
Membaca berita belakangan ini, jadi "gemes". Rasanya ada pihak yang "bermain" (kata teori konspirasi begitu), mereka sengaja mengelola emosi kita, agar terpancing melakukan tindakan-tindakan yang sesuai dengan apa yang mereka mau. Kemarahan yang sistemik, kadang tanpa sadar kita menjadi bagian dari batu bata dalam bangunan kemarahan kolektif itu. Mereka rapih. Terstruktur. Sebagian dari mereka berperan menjadi komentator, sebagian lagi menjadi aparat keamanan yang overacting, sebagian lagi menjadi provokator (juru teriak di setiap demonstrasi), sebagian lagi menjadi politikus, sebagain lagi menjadi presenter, moderator di acara talkshow di tipi-tipi; atau bahkan ada yang sekedar rajin upload status di facebook, terkesan iseng, padahal terpola; dia publikasikan ide-ide provokatif, isu perusak barisan ummat.
Duh, kok aku jadi paranoid ya...
Jadi penuh prasangka, entahlah... memang prasangka dengan waspada itu tipis jaraknya.
Namun, jika prasangka itu menjadi alasan untuk merapikan barisan... aku fikir tidak ada salahnya. Menjadi pemicu kita untuk lebih rinci melakukan perencanaan, dan rapih dalam struktur jama'ah. Pembagian tugas yang jelas, dan selalu optimalisasi potensi semata untuk membangun kekuatan bangunan dakwah. Dari pendidikan anak, komunikasi anggota keluarga, jalinan persaudaraan antar tetangga, ikatan antar jama'ah masjid, bila perlu ada kurikulum yang disepakati di masing-masing majelis taklim... sampai pada dakwah politik, komunikasi yang intens antar kelompok pejuang dakwah, agar perjuangan tidak parsial namun terintegrasi....
Ada jalinan yang kokoh, antara politikus (dakwah politik), pengusaha (dakwah ekonomi), selebritis (dakwahtainment), pekerja seni (dakwah budaya), praktisi pendidikan (dakwah pendidikan), facebooker-twiter-bloger (dakwah media), dan lain sebagianya...
Berharap semua ranah publik, semua sektor kehidupan... menjadi bagian dari wilayah kerja dakwah kita. Wallohua'lam!
Membaca berita belakangan ini, jadi "gemes". Rasanya ada pihak yang "bermain" (kata teori konspirasi begitu), mereka sengaja mengelola emosi kita, agar terpancing melakukan tindakan-tindakan yang sesuai dengan apa yang mereka mau. Kemarahan yang sistemik, kadang tanpa sadar kita menjadi bagian dari batu bata dalam bangunan kemarahan kolektif itu. Mereka rapih. Terstruktur. Sebagian dari mereka berperan menjadi komentator, sebagian lagi menjadi aparat keamanan yang overacting, sebagian lagi menjadi provokator (juru teriak di setiap demonstrasi), sebagian lagi menjadi politikus, sebagain lagi menjadi presenter, moderator di acara talkshow di tipi-tipi; atau bahkan ada yang sekedar rajin upload status di facebook, terkesan iseng, padahal terpola; dia publikasikan ide-ide provokatif, isu perusak barisan ummat.
Duh, kok aku jadi paranoid ya...
Jadi penuh prasangka, entahlah... memang prasangka dengan waspada itu tipis jaraknya.
Namun, jika prasangka itu menjadi alasan untuk merapikan barisan... aku fikir tidak ada salahnya. Menjadi pemicu kita untuk lebih rinci melakukan perencanaan, dan rapih dalam struktur jama'ah. Pembagian tugas yang jelas, dan selalu optimalisasi potensi semata untuk membangun kekuatan bangunan dakwah. Dari pendidikan anak, komunikasi anggota keluarga, jalinan persaudaraan antar tetangga, ikatan antar jama'ah masjid, bila perlu ada kurikulum yang disepakati di masing-masing majelis taklim... sampai pada dakwah politik, komunikasi yang intens antar kelompok pejuang dakwah, agar perjuangan tidak parsial namun terintegrasi....
Ada jalinan yang kokoh, antara politikus (dakwah politik), pengusaha (dakwah ekonomi), selebritis (dakwahtainment), pekerja seni (dakwah budaya), praktisi pendidikan (dakwah pendidikan), facebooker-twiter-bloger (dakwah media), dan lain sebagianya...
Berharap semua ranah publik, semua sektor kehidupan... menjadi bagian dari wilayah kerja dakwah kita. Wallohua'lam!
Kamis, 25 Februari 2010
PONPES AL-IMAN DI MUNTILAN
Ada satu tempat yang paling berpengaruh dalam membentuk pribadiku. Karena selama 6 tahun aku digodok di kawah "Candradimuka"-nya... tempat itu adalah Ponpes Al-Iman di Muntilan.
Diawali dari keputusan Bapak untuk memindahkan aku dari SMPN Blabak (salah satu SMPN favorit di Muntilan, saat itu aku naik kelas Dua) ke Ponpes Al-Iman; dengan alasan pelajari dulu ilmu Alloh, karena Alloh Penggenggam seluruh Ilmu di muka bumi ini. Tentu ini sedikit menyakitkan, terasa berat dalam dada, tinggalkan kemewahan gelar sekolah yang dihormati di Muntilan ke sekolah yang statusnya (semata) "diridhoi" hehehe.... Dan yang lebih membebani aku adalah, bahwa bahasa arab, sebagai ilmu "alat" untuk bisa manjadi santri di Ponpes belum aku mengerti, sementara waktu itu, aku langsung bergabung ke kelas Dua. Karena jangankan paham bahasa arab, membacanya pun aku masih sangat kesulitan. Ingat betul, di hari-hari pertama belajar di Al-Iman... saat mencatat pelajaran yang ditulis dalam huruf arab dari papan tulis aku seperti sedang mem"batik", hingga dapat dipastikan aku menjadi siswa terakhir yang menyelesaikan catatannya. Apalagi ketika ustadz/ah menjelaskan dalam bahasa arab, hehehe, aku cuman bengong... terasa ada dalam planet lain. Namun di kemudian hari, ini justru menjadi sarana motivasiku untuk tetap belajar di sini. "Darah Muda"ku (hehehe.. minjem istilahnya bang Roma) tertantang, aku bertekad mengejar segala ketertinggalanku. Dan jadilah tahun pertama-ku adalah tahun akslerasi-ku. Setiap hari harus bertemu ust. Thohir untuk belajar Al-Qur'an, dan ust. Irfa'i untuk belajar bahasa Arab; belum lagi setiap di kelas Dua "kosong" aku pindah numpang belajar lagi di kelas Satu. Nafsu belajarku justru berkembang biak di sini.
Di Al-Iman, aku mendapatkan banyak hal. Tentang tradisi-tradisi "kirom" terhadap "asatidz", tentang kemampuan berkomunikasi (dengan acara Muhadhoroh/Lomba Pidato yang dilakukan selepas Isya')
Belajar mengelola emosi, berkenalan dengan cinta, ber-theater, ber-musik, karawitan, dan banyak lagi... itu adalah hal-hal yang aku dapat di Ponpes Al-Iman di Muntilan... apa lagi ya?? (BERSAMBUNG; MOHON MASUKAN)
Diawali dari keputusan Bapak untuk memindahkan aku dari SMPN Blabak (salah satu SMPN favorit di Muntilan, saat itu aku naik kelas Dua) ke Ponpes Al-Iman; dengan alasan pelajari dulu ilmu Alloh, karena Alloh Penggenggam seluruh Ilmu di muka bumi ini. Tentu ini sedikit menyakitkan, terasa berat dalam dada, tinggalkan kemewahan gelar sekolah yang dihormati di Muntilan ke sekolah yang statusnya (semata) "diridhoi" hehehe.... Dan yang lebih membebani aku adalah, bahwa bahasa arab, sebagai ilmu "alat" untuk bisa manjadi santri di Ponpes belum aku mengerti, sementara waktu itu, aku langsung bergabung ke kelas Dua. Karena jangankan paham bahasa arab, membacanya pun aku masih sangat kesulitan. Ingat betul, di hari-hari pertama belajar di Al-Iman... saat mencatat pelajaran yang ditulis dalam huruf arab dari papan tulis aku seperti sedang mem"batik", hingga dapat dipastikan aku menjadi siswa terakhir yang menyelesaikan catatannya. Apalagi ketika ustadz/ah menjelaskan dalam bahasa arab, hehehe, aku cuman bengong... terasa ada dalam planet lain. Namun di kemudian hari, ini justru menjadi sarana motivasiku untuk tetap belajar di sini. "Darah Muda"ku (hehehe.. minjem istilahnya bang Roma) tertantang, aku bertekad mengejar segala ketertinggalanku. Dan jadilah tahun pertama-ku adalah tahun akslerasi-ku. Setiap hari harus bertemu ust. Thohir untuk belajar Al-Qur'an, dan ust. Irfa'i untuk belajar bahasa Arab; belum lagi setiap di kelas Dua "kosong" aku pindah numpang belajar lagi di kelas Satu. Nafsu belajarku justru berkembang biak di sini.
Di Al-Iman, aku mendapatkan banyak hal. Tentang tradisi-tradisi "kirom" terhadap "asatidz", tentang kemampuan berkomunikasi (dengan acara Muhadhoroh/Lomba Pidato yang dilakukan selepas Isya')
Belajar mengelola emosi, berkenalan dengan cinta, ber-theater, ber-musik, karawitan, dan banyak lagi... itu adalah hal-hal yang aku dapat di Ponpes Al-Iman di Muntilan... apa lagi ya?? (BERSAMBUNG; MOHON MASUKAN)
Minggu, 21 Februari 2010
mencari tahu "apa itu Sakit Hati"
Sebenarnya dari mana datangnya sakit hati? dari kata-kata pedas orang lain atau justru dari hati kita yang kelewat tinggi melihat diri?
Mungkin bukan sekedar kata-kata pedas, melainkan perlakuan buruk seseorang kepada kita. Bisa jadi mimik yang penuh cibiran, atau bahkan meludah sesaat setelah saling bertatapan. Atau sekedar diabaikan, itupun cukup membuat hati ini terluka. Tapi kesemua itu adalah hal-hal yang terkait dengan faktor di luar diri kita. Yang sejatinya kita memang tidak punya cukup kewenangan untuk mengubahnya. Jika bicara teritori- wilayah kewenangan kita, maka yang bisa kita ubah adalah sikap hati kita, saat serangan "eksternal" itu datang.
Suatu kata, sikap tidak sedap, cacian atau bahkan makian... tidak bisa membuat kita terluka, jika tidak ada penilaian diri yang berlebihan tentang betapa "mulia"nya diri kita ini. Sehinggga (menurut kita) tidak-lah layak, seorang se-mulia kita ini mendapat kata, sikap tidak sedap, cacian juga makian. Nah, jika ini masalahnya... kita bisa mengubahnya. Karena ini adalah masalah internal diri kita.
Mari kita coba, membedah akar masalah dari sakit hati ini... dengan pisau dingin akal sehat kita.
Pertama; evaluasi ulang, jangan-jangan ada sikap kita (atau mungkin kata-kata kita)yang menjadi pemicu munculnya serangan eksternal itu.
Kedua; jangan-jangan, bukan salah anggapan mereka... namun justru masalah ada di anggapan kita terhadap diri kita. Kita keterlaluan dalam memandang hebat diri kita. Cobalah terus merendah, pastikan kita tidak sekedar jongkok melainkan tiarap... biarkan saja ekspektasi orang lain terhadap kita begitu rendah; itu tidak masalah, karena justru akan menaikan nilai kita, ketika akhirnya kita buktikan, bahwa kita jauh lebih hebat dari ekspektasi mereka tersebut.
Entahlah, tapi yang jelas... ayuk kita coba.
Mungkin bukan sekedar kata-kata pedas, melainkan perlakuan buruk seseorang kepada kita. Bisa jadi mimik yang penuh cibiran, atau bahkan meludah sesaat setelah saling bertatapan. Atau sekedar diabaikan, itupun cukup membuat hati ini terluka. Tapi kesemua itu adalah hal-hal yang terkait dengan faktor di luar diri kita. Yang sejatinya kita memang tidak punya cukup kewenangan untuk mengubahnya. Jika bicara teritori- wilayah kewenangan kita, maka yang bisa kita ubah adalah sikap hati kita, saat serangan "eksternal" itu datang.
Suatu kata, sikap tidak sedap, cacian atau bahkan makian... tidak bisa membuat kita terluka, jika tidak ada penilaian diri yang berlebihan tentang betapa "mulia"nya diri kita ini. Sehinggga (menurut kita) tidak-lah layak, seorang se-mulia kita ini mendapat kata, sikap tidak sedap, cacian juga makian. Nah, jika ini masalahnya... kita bisa mengubahnya. Karena ini adalah masalah internal diri kita.
Mari kita coba, membedah akar masalah dari sakit hati ini... dengan pisau dingin akal sehat kita.
Pertama; evaluasi ulang, jangan-jangan ada sikap kita (atau mungkin kata-kata kita)yang menjadi pemicu munculnya serangan eksternal itu.
Kedua; jangan-jangan, bukan salah anggapan mereka... namun justru masalah ada di anggapan kita terhadap diri kita. Kita keterlaluan dalam memandang hebat diri kita. Cobalah terus merendah, pastikan kita tidak sekedar jongkok melainkan tiarap... biarkan saja ekspektasi orang lain terhadap kita begitu rendah; itu tidak masalah, karena justru akan menaikan nilai kita, ketika akhirnya kita buktikan, bahwa kita jauh lebih hebat dari ekspektasi mereka tersebut.
Entahlah, tapi yang jelas... ayuk kita coba.
Selasa, 16 Februari 2010
Koneksitas Ukhuwah.
Merasa tidak sendiri adalah energi yang luar biasa; bukti bahwa berjamaah adalah kebutuhan fitrah manusia... dari galaksi hingga proton dan elektron, selalu nyaman ketika terkoneksi satu sama lain; jadi paham mengapa FB begitu digandrungi...
Perumpamaan dalam film AVATAR, menjadi sangat relevan. Bagaimana seluruh penghuni planet Pandora terkoneksi satu sama lain. Rasanya di Bumi pun semestinya begitu, bukan sekedar terkoneksi dalam teknologi informatika, melainkan juga kita dengan alam, dengan lingkungan kita. Satu bencana alam terjadi bisa jadi karena terjadi distorsi pola hubungan kita manusia sebagai "Kholifah" di muka bumi ini denga Bumi sebagai objek (baca Amanah) pengelolaan, kita sering lalai dalam mengelola koneksitas kita dengan lingkungan kita.
Begitu juga dengan demonstrasi yang marak terjadi, seringkali itu disebabkan oleh pola komunikasi antar kepentingan yang "mandeg", diawali dari arogansi di masing-masing pihak, hingga melenakan bahwa ada kepentingan lain yang harus diperhatikan.
Rasanya Alloh telah menyediakan piranti yang canggih untuk menjalin koneksitas ini, yakni dengan "ukhuwah al Islamiyah". Satu rangkaian yang dibangun dari saling kenal (ta'aruf), saling menyatukan hati (ta'liful qulub), saling memikul beban (takaful), juga saling membantu (tanashur)....
Jaringan Ukhuwah ini, dijaga dengan saling berinteraksi dalam pergaulan hidup sehari-hari, dalam sholat berjamaah, dalam bertukar sapa, salam, senyum.... Bahkan dalam saling mendo'akan.
Semoga Alloh selalu mengikat hati kita dalam Cintanya, dalam ketaatan kepada-Nya, dalam membela Syari'at-Nya, Amien...
Langganan:
Postingan (Atom)
Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...
-
Mereka, para Shahabat Rosulillah itu membaca "Ayat-ayat Allah" dan juga sabda Rosulullah SAW, tidak sekedar sebagai "pesan...
-
"Jika benar kau pemerhati hal-hal sederhana, maka apa yang paling tercatat di mula pertemuan kita dulu?" Mungkin jawabannya adalah...
-
Buku MADILOG, Materialisme, Dialektika dan Logika adalah buku karya Tan Malaka yang kaya. Berisi banyak pengetahuan. Tak kebayang buku ini...