Rabu, 20 November 2019

Sang guru

ia sibuk mencari cara bagaimana paham bersemayam
karena hari-hari runyam
lapar menggigiti lambung kapal siang dan malam
hujan tanpa halang hajar mimpi perlahan tenggelam

tanpa kerja, hanya mengais tangis
anak-anak bermain di tanah lapang sampah
tawa tawa kecewa
harapan tertawan di balik langit kelam
kemiskinan seperti demam
tak tersembuhkan jika hanya diam

ia mulai dengan hamparan tikar dan papan tulis
menggoda anak-anak datang dengan mimpi berlapis
dari kata yang mereka tulis
hingga aksi berbaris-baris

ia hanya ingin kembali membuka layar
bahwa gerbang masa depan masih terbuka lebar
ia menanam benih ide-ide besar
ia menebar titik api semangat, esok kan berkibar kobar.

Magelang, 20/11/2019
Poetoe

(setelah membaca dua buku tentang para relawan pendidikan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

An

aku masih hafal garis wajahmu seperti aku mengingat denah rumahku bahkan dalam pejam mampu kujelajahimu bahkan saat padam mampu kuraih lilin...